Pengertian Dan Manfaat Kemandirian Belajar Anak Menurut Ahli

Pengertian Dan Manfaat Kemandirian Belajar Anak Menurut Ahli

Pengertian Kemandirian Belajar Anak
Konsep kemandirian belajar anak (Self-directed Learning) sebenarnya berakar dari konsep pendidikan orang dewasa. Namun demikian berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli seperti Garrison( 2010:109) Schilleref ( 2010:109), dan Scheidet 2011 ternyata kemandirian belajar anak juga cocok untuk semua tingkatan usia. Dengan kata lain, kemandirian belajar anak sesuai untuk semua jenjang sekolah baik untuk sekolah menengah Atas dan kejuruan.
Pengertian kemandirian belajar anak sampai saat ini belum ada kesepakatan dari para ahli. Ada beberapa variasi pemahaman tentang kemandirian belajar yang diutarakan oleh para ahli seperti dipaparkan oleh Abdullah (2011: 14) sebagai berikut :
  • Kemandirian belajar memandang siswa sebagai para pemimpin dan pemilik tanggung jawab dari proses pembelajaran mereka sendiri. Belajar mandiri mengintegrasikan self-management (manajemen konteks, menentukan setting, sumber daya dan tindakan) dengan self-monitoring (siswa memonitor, mengevaluasi dan mengatur strategi belajarnya (Bolhuis; Garrison: 2011).
  • Peran kemauan dan motivasi dalam kemandirian belajar sangat penting di dalam memulai dan memelihara usaha siswa. Motivasi memandu dalam mengambil keputusan, dan kemauan menopang kehendak untuk menyelami suatu tugas sedemikian sehingga tujuan dapat dicapai
  • Didalam kemandirian belajar, kendali secara berangsur-angsur bergeser dari para guru ke siswa. Siswa mempunyai banyak kebebasan untuk memutuskan pelajaran apa dan tujuan apa yang hendak dicapai dan bermanfaat baginya
  • Kemandirian belajar “ironisnya” justru sangat kolaboratif. Siswa bekerja sama dengan para guru dan siswa lainnya didalam kelas
  • Kemandirian belajar mengembangkan pengetahuan yang lebih spesifik seperti halnya kemampuan untuk mentransfer pengetahuan konseptual ke situasi baru. Upaya untuk menghilangkan pemisah antara pengetahuan di sekolah dengan permasalahan hidup sehari-hari di dunia nyata.
Mujiman (2010: 110) mencoba memberikan pengertian kemandirian belajar dengan lebih lengkap. Menurutnya kemandirian belajar anak adalah kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna mengatasi suatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang dimiliki. Pencapaian kompetensi sebagai tujuan belajar, dan cara penyampaiannya baik penetapan waktu belajar, tempat belajar, irama belajar, tempo belajar, cara belajar, maupun evaluasi belajar dilakukan oleh siswa sendiri. Disini belajar mandiri lebih dimaknai sebagai usaha siswa untuk melakukan kegiatan belajar yang didasari niatnya untuk menguasai suatu kompetensi tertentu.
Pengertian belajar mandiri yang lebih terinci lagi disampaikan oleh Hiemstra (2010:111) yang mendeskripsikan kemandirian belajar sebagai berikut : 
  1. Setiap individu siswa berusaha meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai keputusan dalam usaha belajarnya.
  2. Kemandirian belajar dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.
  3. Kemandirian belajar bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain.
  4. Dengan kemandirian belajar, siswa dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan kedalam situasi yang lain.
  5. Siswa yang melakukan kemandirian belajar dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti: membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan korespondensi.
  6. Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan gagasan kreatif.
  7. Beberapa institusi pendidikan sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang lebih terbuka (Seperti Universitas Terbuka) sebagai alternatif pembelajaran yang bersifat individual dan program-program inovatif lainnya.
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli tentang belajar mandiri di atas, penulis lebih condong dengan pendapat (Hiemstra:2010). Selain gambaran tentang belajar mandirinya lebih komprehensip, secara implisit menggambarkan bahwa belajar mandiri justru merupakan pendekatan pembelajaran masa depan. Hal tersebut dikarenakan : 
  1. Naluri belajar mandiri sebenarnya sudah ada pada setiap orang; 
  2. Kemandirian belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, termasuk orang-orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan; 
  3. Siswa dapat menentukan sendiri waktu, strategi belajar, serta materi dan tujuan yang ingin dicapainya; 
  4. Belajar masa depan bukan lagi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, namun lebih kepada pemenuhan kebutuhan untuk memecahkan masalah hidupnya. 
Namun demikian pendapat (Hiemstra:2010). tersebut diakui belum memasukkan aspek motivasi secara jelas, padahal aspek motivasi dalam kemandirian belajar merupakan sebuah prasyarat utama yang harus ada.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dan beberapa pertimbangan di atas, maka kemandirian belajar dapat diartikan sebagai usaha individu untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai sesuatu materi dan atau kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata.
Self directed learning adalah kegiatan kemandirian-kemandirian sedangkan orang yang melakukan kemandirian belajar sering disebut siswa mandiri ( self-directed learners). (Abdullah 2010:114) mengatakan mengatakan self-directed Learners adalah sebagai “para manajer dan pemilik tanggung jawab dari proses pembelajaran yang mereka lakukan sendiri”. Individu seperti itu mempunyai keterampilan untuk mengakses dan memproses informasi yang mereka perlukan untuk suatu tujuan tertentu. Dalam kemandirian belajar mengintegrasikan self-management (manajemen konteks, termasuk latar belakang sosial, menentukan, sumber daya dan tindakan) dengan yang self-monitoring (proses siswa dalam memonitor, mengevaluasi dan mengatur strategi belajarnya).
Kemandirian belajar (self-directed learning) yang ada di sisi sebelah kiri dari pendekatan, mengacu pada karakteristik proses belajar mengajar atau apa yang dikenal sebagai faktor eksternal dari siswa. Disini mengacu pada bagaimana proses pembelajaran itu dilaksanakan. Siswa mandiri (self-direction Learners) yang ada disebelah kanan dari pendekatan mengacu pada individu yang melakukan kegiatan belajar. Termasuk didalamnya yaitu karakteristik kepribadian siswa atau sering kita sebut faktor internal dari individu yang bersangkutan. Jika kedua hal tersebut (self-directed learning dan self-direction Learners) dapat tercipta dalam proses pembelajaran, maka individu dapat memiliki kemandirian dalam belajar (self-direction in learning).
Dengan demikian kemandirian belajar (self-direction in learning) dapat diartikan sebagai sifat dan sikap serta kemampuan yang dimiliki siswa untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata.
Perkembangan penelitian yang berhubungan dengan kemandirian belajar diperoleh hubungan yang erat antara input, lingkungan, dan proses pembelajaran dengan kemandirian belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap manusia dapat berkembang secara maksimal dalam hal kemandirian belajar, jika dalam proses pembelajaran memberikan peluang kepada siswa untuk membuat keputusan mengenai proses pembelajaran itu sendiri (Donagy, 2011:89).
Burt Sisco ( Dalam Hiemstra 2011:89) membuat sebuah pendekatan yang membantu individu untuk menjadi lebih mandiri dalam belajar. Menurut Sisco ada enam langkah kegiatan untuk membantu individu menjadi lebih mandiri dalam belajar, yaitu : 
  1. Preplanning (aktivitas sebelum proses pembelajaran); 
  2. Menciptakan lingkungan belajar yang positif; 
  3. Mengembangkan rencana pembelajaran;
  4. Mengidentifikasi aktivitas pembelajaran yang sesuai; 
  5. Melaksanakan kegiatan pembelajaran dan monitoring; dan
  6. Mengevaluasi hasil pembelajaran individu.
Manfaat Kemandirian Belajar
Banyak literarur yang mengungkap tentang kelebihan-kelebihan kemandirian belajar (Abdulla, 2011:90) dalam mengutip dari berbagai ahli memaparkan tentang keuntungan-keuntungan kemandirian belajar. Orang yang melakukan kegiatan kemandirian belajar mendapatkan keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
  1. Mempunyai kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam membuat pembelajaran menjadi bermakna terhadap dirinya sendiri.
  2. Menjadi lebih penasaran untuk mencoba hal-hal baru.
  3. Siswa pada kemandirian belajar memandang permasalahan sebagai tantangan yang harus dihadapi, minat belajar terus berkembang dan pembelajaran lebih menyenangkan.
  4. Mereka menjadi termotivasi dan gigih, mandiri, disiplin-diri, percaya diri dan berorientasi pada tujuan.
  5. Memungkinkan mereka belajar dan bersosialisasi dengan lebih efektif.
  6. Mereka lebih mampu untuk mencari informasi dari berbagai sumber, menggunakan berbagai strategi untuk mencapai tujuan, dan dapat mengungkapkan gagasannya dengan format yang berbeda atau lebih kreatif.
Keterampilan Kemandirian Belajar
Kemandirian belajar yang dilakukan haruslah tetap efektif, yaitu tetap dalam rangka mencapai tujuahn tertentu yang telah ditetapkan dalam waktu tertentu. Agar dapat mencapai tujuan, belajar secara efektif, maka diperlukan beberapa keterampilan untuk melakukan kegiatan belajar mandiri.
Mudjiman (2011: 120) kemandirian belajar anak memiliki tiga tahap pelaksanaan, yaitu tahap pengembangan motivasi, tahap pembelajaran, dan tahap refleksi. Sehingga keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk belajar mandiri adalah adalah keterampilan yang diperlukan untuk mengerjakan setiap tahap kemandirian belajar.
Pada tahap pengembangan motivasi, keterampilan yang perlu dikuasai adalah keterampilan menumbuhkan self-motivation. Untuk dapat menumbuhkan self motivation diperlukan beberapa keterampilan seperti: 
  1. Kemampuan mengetahui detail dari kegiatan; 
  2. Kemampuan menganalisis dan menyimpulkan bahwa kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan terjangkau; 
  3. Kemampuan menikmati pengalaman belajar; 
  4. Kemampuan melakukan penilaian secara obyektif. 
Pada tahap pembelajaran, keterampilan yang perlu dikuasai adalah keterampilan dasar penelitian, yang meliputi: 
  1. Keterampilan merumuskan masalah; 
  2. Keterampilan menetapkan tujuan belajar; 
  3. Keterampilan menetapkan strategi;
  4. Keterampilan menetapkan jenis informasi yang diperlukan;
  5. Keterampilan mengidentifikasi sumber informasi; 
  6. Keterampilan mencari informasi; 
  7. Keterampilan menganalisis informasi;
  8. Keterampilan merumuskan hasil analisisnya; 
  9. Keterampilan mengkomunikasikan hasil belajarnya;
  10. Kemampuan menilai pada akhir kegiatan belajar.
Pada tahap refleksi, keterampilan yang diperlukan antara lain:
  1. Kemampuan menentukan kebenaran dan kesalahan; 
  2. Kemampuan menerima kesalahan sebagai sesuatu yang wajar; 
  3. Menggunakan kesalahan untuk perbaikan; 
  4. Kemampuan menerima keberhasilan bukan untuk kebanggaan namun sebagai kenyataan untuk dipahami untuk ditingkatkan pada proses berikutnya.
Seluruh keterampilan di atas harus ditumbuhkan oleh guru dalam proses pembelajaran dengan melakukan berbagai strategi pembelajaran yang memungkinkan untuk berkembangnya seluruh keterampilan di atas.
Kemandirian belajar siswa akan terlihat dari kemampuannya untuk menguasai berbagai keterampilan sebagaimana dipaparkan oleh Mudjiman (2011:121) di atas. menjelaskan bahwa kemandirian belajar seseorang dapat terlihat dari 10 kemampuannya sebagai berikut :
  1. Kemampuan untuk bertanya, menemukan dan memecahkan masalah.
  2. Kemampuan untuk terbuka terhadap pandangan-pandangan orang lain
  3. Kemampuan membaca data dan kecepatan memilih sumber-sumber yang relevan
  4. Kemampuan untuk mengumpulkan data mengenai kinerja yang didasarkan pada pengamatan diri dan masukan dari orang lain.
  5. Kemampuan untuk menilai kinerja sendiri dengan menggunakan data tersebut
  6. Kemampuan untuk menterjemahkan kebutuhan belajar menjadi tujuan, rencana, dan kegiatan.
  7. Kemampuan untuk menetapkan tujuan untuk memperbaiki kinerja saat ini.
  8. Kemampuan mengamati dan menjadikan model kinerja orang lain
  9. Kemampuan menetapkan suatu komitmen yang kuat untuk belajar agar tujuan-tujuan tersebut tercapai
  10. Kemampuan untuk memelihara motivasi diri secara kontinyu.
Jika seluruh ketrampilan tersebut diatas dikuasai oleh siswa, kemandirian belajar siswa pasti akan tercipta. Sehingga proses pembelajaran yang dilakukan olehnya pasti akan berkualitas dan mendapatkan hasil/ kompetensi belajar sesuai yang diinginkan. Berdasarkan hal tersebut maka dalam penelitian ini, kesepuluh keterampilan yang diuraikan diatas yang akan dijadikan instrumen angket untuk mengetahui kemandirian belajar seseorang. Kemudian kecakapan di atas akan dijabarkan dalam butir-butir yang lebih terinci dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar untuk kemudian dijadikan instrumen yang berupa angket sebagai alat pengumpul data. 
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian Belajar
Menurut Ali Mohammad (2011) sejumlah faktor yang sering disebut sebagai korelat bagi perkembangan kemandirian belajar, yaitu sebagai berikut.
  1. Gen atau keturunan orang tua, Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi sering kali menurunkan anak yang memiliki kemandirian belajar juga, namun, faktor keturunan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya muncul berdasarkan cara orang mendidik anaknya.
  2. Pola asuh orang tua, Cara orang tua menegaskan atau mendidik anak akan mempengaruhi perkembangannya kemandirian anak remajanya, orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata” jangan “kepada anak tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian anak, sebaliknya orang tua menciptkan suasana dalam interaksi keluarganya akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak, Demikian juga, orang tua yang cenderung sering membandingkan anak yang satu dengan lainnya juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan kemandirian belajar anak.
  3. Sistem pendidikan di sekolah, proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi tanpa argumantasi akan menghambat perkembagan kemandirian belajar. demikian juga, proses pendidikan dan cenderung menekankan indroktinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian belajar. Demikian juga proses pendidikan yang banyak menekankan pentingnya pemberian sanksi atau hukuman (punishment) juga dapat menghambat perkembangan kemandirian remaja, sebaliknya penghargaaan terhadap potensi anak, dan penciptaan kompetisi positif akan meperlancar perkembangan kemandirian belajar.
Upaya Pengembangan Kemandirian Belajar
Menurut Ali Mohammad (2011) sesuai dengan fase perkembangan upaya pengembangan kemandirian belajar sebaiknya di lakukan melalui:
  1. Penciptaan partisipasi dan keterlibatan siswa secara penuh dalam lingkungan
  2. Penciptaan keterbukaan komunikasi dalam keluarga.
  3. Penciptaan kebebasan mengeksplorasi lingkungan..
  4. Penciptaan komunikasi empatik dengan siswa
  5. Penerimaan siswa secara positif tanpa syarat.
  6. Penciptaan kehangatan interaksi dengan siswa.
Pengertian Status Sosial
Kata sosial berasal dari kata “socius” yang artinya kawan (teman). Dalam hal ini arti kawan bukan terbatas sebagai teman sepermainan, teman kerja dan sebagainya. Yang dimaksud teman adalah mereka yang ada disekitar kita, yakni yang tinggal dalam suatu lingkungan tertentu dan mempunyai sifat yang saling mempengaruhi Shadily ( 2012:54).
Status sosial orang tua sangat berpengaruh bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai potensi serta kepribadian yang memungkinkan dia diterima dalam pergaulan dengan individu yang lain. Karena setiap individu akan menyalurkan potensinya tersebut untuk kepentigan tertentu, kemudian individu yang lain dapat menerima dan mengakuinya. Atas dasar itulah dia akan mendapatkan status itu di dalam kelompok dimana dia berada.
Menurut Mulyanto (2012:56) mengatakan bahwa “Perkataan sosial telah mendapat banyak interprestasi, walaupun demikian orang berpendapat bahwa perkataan ini mencapai reciprocal behaviour atau perilaku yang saling mempengaruhi dan saling tergantungnya manusia satu sama lain”. Status sosial merupakan suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat, pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang hanya dipenuhi si pembawa statusnya, misalnya: pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan. Soekanto ( 2011:99).
Menurut Soekanto (2012:101) Sosial dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dan menetapkan seseorang dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat. Pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi si pembawa status misalnya, pekerjaan. Status sosial orangtua sangat berdampak bagi pemenuhan kebutuhan keluarga dalam mencapai standar hidup yang sejahtera dan mencapai kesehatan yang maksimal. Status adalah keadaan atau kedudukan seseorang, sedangkan pengertian sosial sangat berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat di lingkungan sekitar. Didalam kehidupan bermasyarakat terdapat pembeda posisi atau kedudukan seseorang maupun kelompok di dalam struktur sosial tertentu. Perbedaan kedudukan dalam masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan istilah lapisan sosial. Lapisan sosial merupakan sesuatu yang selalu ada dan menjadi ciri yang umum di dalam kehidupan manusia. Seorang sosiologi yang menyatakan bahwa lapisan sosial adalah perbedaan kedudukan atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirakri).
Sitorus (2012:102) mendefenisikan status sosial bahwa hal tersebut merupakan kedudukan seseorang di masyarakat, dimana didasarkan pada perbedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang di wujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang lebih rendah dengan mengacu pada pengelompokkan menurut kekayaan kelas sosial biasa digunakan hanya untuk lapisan berdasarkan tingkatan. Diantara lapisan atasan dengan yang terendah, terdapat lapisan yang jumlahnya relatif banyak. Biasanya lapisan atasan, tidak hanya memiliki satu macam saja apa yang dihargai oleh masyarakat. Akan tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya, mereka yang mempunyai uang lebih banyak, akan lebih Pengertian status sosial dapat dipahami dengan jelas dengan melihat asal katanya. Kata sosial berasal dari kata “socius” yang artinya kawan (teman). Dalam hal ini arti kawan bukan terbatas sebagai teman sepermainan, teman kerja dan sebagainya. Yang dimaksud teman adalah mereka yang ada disekitar kita, yakni yang tinggal dalam suatu lingkungan tertentu dan mempunyai sifat yang saling mempengaruhi Shadily ( 2011:123).
Status sosial orang tua sangat berpengaruh bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai potensi serta kepribadian yang memungkinkan dia diterima dalam pergaulan dengan individu yang lain. Karena setiap individu akan menyalurkan potensinya tersebut untuk kepentingan tertentu, kemudian individu yang lain dapat menerima dan mengakuinya. Atas dasar itulah dia akan mendapatkan status itu didalam kelompok dimana dia berada. Menurut Mulyanto (2011:123) mengatakan bahwa “status sosial telah mendapat banyak interprestasi, walaupun demikian orang berpendapat bahwa perkataan ini mencapai reciprocal behaviour atau perilaku yang saling mempengaruhi dan saling tergantungnya manusia satu sama lain”.”Status sosial merupakan suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat, pemberian posisi disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang hanya dipenuhi si pembawa statusnya, misalnya: pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan. Soekanto (2011:124).
Status sosial dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dan menetapkan seseorang dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat. Pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi pembawa status misalnya, pendapatan, dan pekerjaan. Status sosial orang tua sangat berdampak bagi pemenuhan kebutuhan keluarga dalam mencapai standar hidup yang sejahtera dan mencapai kesehatan yang maksimal. Status adalah keadaan atau kedudukan seseorang, sedangkan pengertian sosial sangat berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat di lingkungan sekitar. Didalam kehidupan bermasyarakat terdapat pembeda posisi atau kedudukan seseorang maupun kelompok didalam struktur sosial tertentu. Perbedaan kedudukan dalam masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan istilah lapisan sosial. Lapisan sosial merupakan sesuatu yang selalu ada dan menjadi ciri yang umum di dalam kehidupan manusia. Seorang sosiolog yang bernama Soekanto (2011:124) menyatakan bahwa lapisan sosial adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirakri).
Sitorus (2011:124) mendefenisikan status sosial bahwa hal tersebut merupakan kedudukan seseorang di masyarakat, dimana didasarkan pada pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang di wujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang lebih rendah dengan mengacu pada pengelompokkan menurut kekayaan Kelas sosial biasa digunakan hanya untuk lapisan berdasarkan unsur ekonomis. Diantara lapisan atasan dengan yang terendah, terdapat lapisan yang jumlahnya relatif banyak. Biasanya lapisan atasan, tidak hanya memiliki satu macam saja apa yang dihargai oleh masyarakat. Akan tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya, mereka yang mempunyai uang lebih banyak, akan lebih mudah Pengertian status sosial dapat dipahami dengan jelas dengan melihat asal katanya. Kata sosial berasal dari kata “socius” yang artinya kawan (teman). Dalam hal ini arti kawan bukan terbatas sebagai teman sepermainan, teman kerja dan sebagainya. Yang dimaksud teman adalah mereka yang ada disekitar kita, yakni yang tinggal dalam suatu lingkungan tertentu dan mempunyai sifat yang saling mempengaruh Shadily ( 2011:125).
Status sosial orang tua sangat berpengaruh bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai potensi serta kepribadian yang memungkinkan dia diterima dalam pergaulan dengan individu yang lain. Karena setiap individu akan menyalurkan potensinya tersebut untuk kepentigan tertentu, kemudian individu yang lain dapat menerima dan mengakuinya. Atas dasar itulah dia akan mendapatkan status itu di dalam kelompok dimana dia berada. Menurut Mulyanto (2011:125) mengatakan bahwa “Perkataan sosial telah mendapat banyak interprestasi, walaupun demikian orang berpendapat bahwa perkataan ini mencapai reciprocal behaviour atau perilaku yang saling mempengaruhi dan saling tergantungnya manusia satu sama lain”. Status sosial merupakan suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat, pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang hanya dipenuhi si pembawa statusnya, misalnya: pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan Soekanto ( 2011:125).
Status sosial dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dan menetapkan seseorang dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat. Pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi si pembawa status misalnya, pendapatan, dan pekerjaan. Status sosial ekonomi orangtua sangat berdampak bagi pemenuhan kebutuhan keluarga dalam mencapai standar hidup yang sejahtera dan mencapai kesehatan yang maksimal. Status adalah keadaan atau kedudukan seseorang, sedangkan pengertian sosial sangat berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat di lingkungan sekitar. Didalam kehidupan bermasyarakat terdapat perbedaan posisi atau kedudukan seseorang maupun kelompok di dalam struktur sosial tertentu. Perbedaan kedudukan dalam masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan stilah lapisan sosial. Lapisan sosial merupakan sesuatu yang selalu ada dan menjadi ciri yang umum di dalam kehidupan manusia. Seorang sosiolog yang bernama Soekanto (2011:134) menyatakan bahwa lapisan sosial adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirakri).
Sitorus (2011:125) mendefenisikan status sosial bahwa hal tersebut merupakan kedudukan seseorang di masyarakat, dimana didasarkan pada pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang di wujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang lebih rendah dengan mengacu pada pengelompokkan menurut kekayaan kelas sosial biasa digunakan hanya untuk lapisan berdasarkan unsur tingkatan. Diantara lapisan atasan dengan yang terendah, terdapat lapisan yang jumlahnya relatif banyak. Biasanya lapisan atasan, tidak hanya memiliki satu macam saja apa yang dihargai oleh masyarakat. Akan tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya, mereka yang mempunyai uang lebih banyak, akan lebih mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat di simpulkan bahwa pada dasarnya kelas sosial adalah status atau kedudukan seseorang di masyarakat, dimana berdasarkan pada pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang rendah dengan Pengertian status sosial dapat dipahami dengan jelas dengan melihat asal katanya. Kata sosial berasal dari kata “socius” yang artinya kawan (teman). Dalam hal ini arti kawan bukan terbatas sebagai teman sepermainan, teman kerja dan sebagainya. Yang dimaksud teman adalah mereka yang ada disekitar kita, yakni yang tinggal dalam suatu lingkungan tertentu. 
Status sosial orangtua sangat berpengaruh bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai potensi serta kepribadian yang memungkinkan dia diterima dalam pergaulan dengan individu yang lain. Karena setiap individu akan menyalurkan potensinya tersebut untuk kepentigan tertentu, kemudian individu yang lain dapat menerima dan mengakuinya. Atas dasar itulah dia akan mendapatkan status itu di dalam kelompok dimana dia berada. Menurut Mulyanto (2011:126) mengatakan bahwa “Perkataan sosial telah mendapat banyak interprestasi, walaupun demikian orang berpendapat bahwa perkataan ini mencapai reciprocal behaviour atau perilaku yang saling mempengaruhi dan saling tergantungnya manusia satu sama lain”. Status sosial orang tua merupakan suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat, pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang hanya dipenuhi si pembawa statusnya, misalnya: pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan. Soekanto, ( 2011:127).
Status sosial dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dan menetapkan seseorang dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat. Pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi sipembawa status misalnya, pendapatan, dan pekerjaan. Status sosial orang tua sangat berdampak bagi pemenuhan kebutuhan keluarga dalam mencapai standar hidup yang sejahtera dan mencapai kesehatan yang maksimal. Status adalah keadaan atau kedudukan seseorang, sedangkan pengertian sosial sangat berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat di lingkungan sekitar. Didalam kehidupan bermasyarakat terdapat pembeda posisi atau kedudukan seseorang maupun kelompok di dalam struktur sosial tertentu. Perbedaan kedudukan dalam masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan stilah lapisan sosial. Lapisan sosial merupakan sesuatu yang selalu ada dan menjadi ciri yang umum didalam kehidupan manusia. Seorang sosiolog yang bernama Sorokin (dalam Soekanto 2011:127) menyatakan bahwa lapisan sosial adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirakri).
Sitorus (2011:127) mendefenisikan status sosial bahwa hal tersebut merupakan kedudukan seseorang di masyarakat, dimana didasarkan pada pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang di wujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang lebih rendah dengan mengacu pada pengelompokkan menurut kekayaan Kelas sosial biasa digunakan hanya untuk lapisan berdasarkan unsur tingkatan. Diantara lapisan atasan dengan yang terendah, terdapat lapisan yang jumlahnya relatif banyak. Biasanya lapisan atasan, tidak hanya memiliki satu macam saja apa yang dihargai oleh masyarakat. Akan tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya, mereka yang mempunyai uang lebih banyak, akan lebih mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat di simpulkan bahwa pada dasarnya kelas sosial adalah status atau kedudukan seseorang di masyarakat, di mana berdasarkan pada pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang rendah dengan mengacu pada pengelompokan menurut kekayaan.

Post Comment