Pengertian Kepustakaan Dan Dokumentasi Menurut Ahli

Pengertian Kepustakaan Dan Dokumentasi Menurut Ahli

Pengertian Kepustakaan Dan Dokumentasi Menurut Ahli

Kepustakaan Dan Dokumentasi 
1. Pengertian Kepustakaan
Istilah ‘kepustakaan’ (literature, bibliografi) berasal dari kata “Pustaka” yang dalam bahasa Batak artinya ‘kitab’ atau ‘buku’. Pada Yang di zaman dahulu pustakan berupa lembaran-lembaran dari kulit kayu. Jadi ‘kepustakaan’ artinya ‘bahan bacaan’ atau kumpulan buku-buku yang dibaca, yang juga berarti ‘daftar bacaan’. Sedangkan yang disebut ‘perpustakaan’ (bibliotik, library) adalah tempat berbagai macam buku yang disimpan dan disediakan untuk dibaca, baik berupa buku-buku ilmu pengetahuan, dan buku-buku lainnya dan mungkin juga tersedia bahan-bahan dokumentasi.
Dengan demikian para tenaga pengajar, pelajar, dan mahasiswa, dan semua orang yang memerlukan membaca buku-buku dan dokumentasi dapat berkunjung ke perpustakaan, atau membelinya di toko-toko buku. Bahkan akan lebih baik lagi jika para dosen dan mahasiswa sejak dini telah membentuk sendiri perpustakaan kecil di rumahnya, sehingga ia selalu dekat dengan perpustakaan.
2. Pengertian Dokumentasi
Istilah dokumentasi (documentation) berarti surat-surat penting, bahan-bahan bacaan yang penting, ada yang dijilid tetapi kebanyakan tidak dijilid seperti buku,. Termasuk dalam pengertian dokumentasi seperti berbagai lembaran Negara (Staatblad), tambahan lembaran Negara (bijblad), berita Negara, keputusan-keputusan pengadilan, dewan perwakilan rakyat, berbagai peraturan perundangan, laporan-laporan peneltian, makalah atau risalah-risalah cermah ilmiah, hasil-hasil diskusi, seminar, symposium, akta-akta notaris, surat-surat kontrak, diktat-diktat, surat-surat kabar, majalah, bulletin, catatan-catatan harian, perjalanan, biografi atau otobiografi dan sebagainya. Baik berupa barang cetakan, tertulis dalam aksara latin maupun dalam aksaara daerah, baik yang terdapat di perpustakaan maupun dari anggota masyarakat.
Bahan-bahan kepustakaan dan dokumentasi tersebut perlu diketahui siapa penulisnya, penerbitnya, tahun diterbitkan, menguraikan tengang masalah apa, apakah ada kaitannya dengan masalah yang akan diteliti atau dibahas.
3. Kegunaan Kepustakaan
Mahasiswa/peneliti yang akan melakukan penelitian untuk membuat skripsi memerlukan adanya bahan-bahan kepustakana yang akan ditinjau, dibaca, dipelajari, dicatat, dikutip, diterjemahkan, disadurnya sebagai modal kerja penelitiannnya. Jadi kegunaan studi kepustakaan itu antara lain sebagai berikut :
  • Untuk mengetahui dan memahami uraian, pandangan atau pendapat, konsepsi-konsepsi dan teori-teori, metode-metode yang diperlukan untuk melakukan penelitian terhadap masalah yang telah ditentukan.
  • Untuk mencatat, mengutip, menyadur bahan-bahan yang dianggap perlu dari buku atau dokumentasi yang dibaca, guna dijadikan uraoanm dalam, kerangka teori dan konsepsi yang disesuaikan dnegan pendekatan ilmiah terhadap masalah yang diteliti.
  • Untuk menjadi bahan verifikasi (membuktikan) dan menganalisa (memeriksa, menguraikan) data-data yang dikumpulkan dan dibahas dalam penyajian data, sehingga dapat ditarik pengertian dan kesimpulan sebagai hasil penelitian.
4. Penulis Buku / Pengarang / / Editor
a. Penulis Buku
Nama penulis atau pengarang buku dapat mencerminkan isi buku yang ditulis menurut bidang keahliannya, misalnya nama-nama van Vollenhoven, Ter Haar, Djojogigoeno, Hazairin, Soepomo, Soerjono Soekanto dan lainnya, mereka terkenal sebagai pakar-pakar Hukum Adat, kebanyakan buku-bukunya menguraikan hukum adat, walaupun ada juga karya tulisnya yang lain.
Sedangkan nama-nama seperti Wirjono Prodjodikoro, Subekti, adalah pakar Hukum Perdata, Miriam Budiardjo pakar Ilmu Politik, Koentjaraningrat pakar Antropologi Budaya, dan masih banyak lagi yang lain, di mana dari para penulis buku telah dapat kita bayangkan uraian bukunya dalam bidang ilmu pengetahuan apa.
Biasanya nama penulis buku beriringan dengan judul buku tertulis dengan jelas pada kulit muka buku, misalnya : dalam halaman setelah kulit buku yang berbunyi sebagai berikut :
· METODE-METODE PENELITIAN MASYARAKAT
Redaksi KOENTJARANINGRAT
Penerbit PT. Gramedia Jakarta 1977
atau sebagai berikut :
· HUKUM DAN PERKEMBANGAN SOSIAL
Buku Teks Sosiologi Hukum, Buku I
Editor : Prof. Dr. A.A. Peters (Universitas Utrecht)
Koesriani Siswosoebroto S.H. (Universitas Indonesia)
Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1988
b. Penyunting
Kata ‘penyunting’ berasal dari kata ‘sunting’, yang artinya ‘hiasan’ atau ‘mencantumkan,’ jadi ‘penyunting’ dalam karya ilmiah berarti menulis kata pendahuluan di dalam buku, atau mencantumkan karya-karya tulis orang lain yang berguna di dalam karangan buku untuk dipahami.
c. Editor
Kata ‘edited’ artinya diperiksa (isi naskahnya), ‘edited by … ‘ artinya diperiksa dan diperbaiki oleh ……. Biasanya di dalam buku itu terdapat beberapa penulis dengan judulnya masing-masing, kemudian disusun dan dicantumkan menurut kemauan penyusun. Penyusunannya disebut ‘editor’ atau ‘redaktur’ yaitu orang yang memeriksa naskah untuk penerbitan. ‘edisi’ (edition) artinya ‘terbitan’ atau ‘cetakan’, edisi kedua, berarti cetakan kedua. ‘editorial’ artinya ‘tajuk rencana’ (di dalam surat kabar).
d. Redaksi
Kata ‘redaksi’ (redactie) maksudnya ‘sidang pengarang’ (surat kabar, majalah) atau merupakan susunana kata-kata sebuah surat atau karangan (buku). Jadi kata ‘redaksi’ … ‘berarti susunan (kumpulan) dari beberapa karangan dari beberapa penulis yang dilakukan oleh (misalnya Koentjaraningrat). Seharusnya si penyusun disebut ‘redaktur’, tetapi kata redaktur pada umumnya dipakai untuk pengarang surat kabar.
Apapun istilah yang dipakai seperti penulis, pengarang, penyusun, penyunting, editor redaksi, di dalam sebuah buku atau karya tulis lainnya, mereka adalah penanggungjawab dari karya itu. Jika nama penyusun, seseorang atau beberapa orang tidak tercantum beriringan dengan judul buku, maka yang bertanggung jawab adalah penerbit karya tulis tersebut. Di dalam surat kabar sering kali ditemukan sesuatu pemberitaan tanpa nama penulis tetapi pada akhir kalimat hanya tertulis kode misalnya pada harian Kompas (rie), (pun), (ira/ww), (hel), (dpy) dan lainnya, yang merupakan singkatan nama wartawan, atau (Ant/Rtr) yaitu singkatan sumber berita.
Begitu pula halnya dalam menemukan bahan-bahan dokumentasi, seperti surat-surat penting, putusan-putusan pengadilan, pandangan pendapat dari para ahli, pasal-pasal perundangan, berita-berita atau karangan dalam surat-surat kabar atau majalah, dan sebagainya. Setiap catatan, salinan atau fotocopy ataupun guntingan surat kabar atau majalah, jangan lupa mencatat sumbernya, seperti :
· Judul buku, atau nama surat kabar/majalah,
· Nama penulis buku, atau penulis karangan,
· Nama penerbit buku atau nama pemilik dokumen,
· Tempat buku diterbitkan, atau tempat meminjam, menemukan dokumen,
· Tahun penerbitan buku, atau tanggal bulan tahun penerbitan surat kabar/majalah,
· atau tanggal keputusan pengadilan dan sebagainya.
5. Kwotasi dan Referensi
1. Kwotasi
Kwotasi (quotation) artinya kutipan, tukilan, atau nukilan dari buku-buku atau bahan dokumentasi. Pada umumnya karya ilmiah terdapat kalimat-kalimat yang dikutip dari buku atau karya tulis orang lain. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang tanpa mengutip dan membicarakan pendapat (ciptaan) orang lain, dengan menyebutkan sumbernya yang lengkap. Di dalam Undang-undang Hak Cipta No. 6 Tahun 1982 (Ln. 1982: 15) yang sudah diubah dan ditambah dengan Undang-undang No. 7 / 1987 (Ln. 1987-42) pasal 14(a) dikatakan :
“Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebut secara lengkap, maka tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta;
a. Pengutipan ciptaan pihak lain sampai sebanyak-banyaknya 10% (sepuluh persen) dari kesatuan yang bulat tiap ciptaan yang dikutip sebagai bahan untuk menguraikan masalah yang dikemukakan;
Dengan demikian mengutip isi buku orang lain boleh dilakukan asalkan menyebut sumbernya yang lengkap. Mengutip aritnya mengambil tulisan orang lain, yang huruf kata-kata dan bunyinya sama dan dipindahkan ke dalam karangan si penulis. Agar jelas bahwa kalimat itu adalah kutipan, maka satu kesatuan kalimat yang dikutip diberi ‘tanda kutip’ (quotation mark) dengan tanda dua koma (“……..” atau dengan satu koma (‘ …….’) dari kata-kata permulaan sampai kata-kata akhirnya.
‘Kutipan’ berbeda dari ‘saduran’, kata saduran berasal dari kata ‘sadur’ yaitu ‘lapis’ atau ‘sepuh’, kata ‘menyadur’ berarti ‘melapis’ atau ‘menyepuh’, ‘menyadur cerita’ artinya mengubah cerita sehingga menjadi cerita lain (tetapi pokok-pokoknya sama). Jadi ‘saduran’ adalah hasil olahan, atau juga menjadi ringkasan. Saduran kalimat yang berasal dari kalimat orang lain tidak usah memakai tanda kutip, namun ada baiknya pada akhir kalimatnya juga diberikan tanda misalnya (perhatikan atau lihat, sebut nama penulis asal, tahun dan halaman bukunya).
2. Referensi
Istilah referensi berasal dari kata Belanda ‘referen’ yang artinya ‘menunjuk kepada’ (sumber asal, buku, dokumen dan lainnya). Jadi (kutipan). Sesudah perang dunia kedua terdapat dua macam referensi yaitu referensi dengan memberi nomor pada akhir kalimat kwotasi dengan catatan kaki (footnote) dan referensi dengan mencantumkan nama sumber, tahun dan halaman di dalam kurung pada akhir kalimat kutipan, perhatikan contoh di bawah ini :
a. REFERENSI DENGAN FOOTNOTE
Referensi dengan memakai footnote (catatan kaki) adalah cara menunjuk sumber pengambilan kalimat atau keterangan dari sumber.
Jadi dalam catatan kaki itu disebut nama penulis bukunya, judul buku, tempat diterbitkan dan tahun terbitnya, bahkan seharusnya menyebut nama penerbitnya.
Selanjutnya dikarenakan pada halaman yang sama terdapat dua kutipan yang berasal dari sumber yang sama tetapi halamannya berbeda maka cukup disebutkan nomor berikutnya yaitu 49. ibid hlm. 9-10 yang artinya ‘ibid’ (singkatan dari ‘ibidem) artinya dapat dilihat dari buku yang sama pada halaman 9-10.
Selanjutnya pada catatan kaki tersebut disebut nomor. 66 HG. Schulte –Nordholt, op.cit. hlm. 350 dst, kata op cit adalah singkatan dari kata opera citato yang artinya lihat pada buku HG. Schulte-Nordholt pada halaman 350 dan seterusnya. Begitu pula disebut dengan nomo 105.loccit yaitu singkatan dari loco citato artinya juga lihat pada buku yang disebut pada halaman sebelumnya. Pada catatan kaki tidak saja menunjukkan referensi buku atau dokumen yang menjadi sumber kutipan atau saduran, tetapi juga memuat keterangan atau penjelasan penulis tentang apa yang disebutkannya, atau hubungan uraian tersebut dengan pendapat yang lain, dan sebagainya.
Pendokumentasian Pustaka
1. Pendokumentasian pustaka pada teks 
Penunjukan sumber acuan dalam teks menggunakan sistem nama dan tahun (name and year system) dengan menyebutkaan nama akhir pengarang dann diikuti tahun. Apabil jumlah pengarang lebih dari dua orang, maka yang ditulis hanya orang pertama dan diikuti dengan et al. Penunjukan sumber acuan dalam teks dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya : 
  • Menurut Mitchell (1974: 12), gulma air dikelompokkan menjadi berapa golongan, yaitu …
  • Penerapan pola tanam padi yang berbeda akan memperoleh ketersediaan pakan hama dan musuh alaminya (Untung, 1987:55). 
  • Pembersihan gulma di sekitar tanaman padi (Aji, 1990:33) dapat mengakibatkan …
  • Nimfa dan wereng coklat dewasa tinggal di pangkal batang, tetapi saat terjadi ledakan populasi dijumpai pula pada daun dan malai (Anonim, 1986; Baekhaki, 1987; Mochida et al., 1979) 
2. Penulisan nama pengarang 
  • Nama pengarang lebih dari satu suku kata. Tidak memperhatikan latar belakang nama (misalnya, nama marga), yang dicantumkan adalah nama dibalik (nama asli, nama marga, atau nama suami), contoh: Fumio Matsumura, ditulis: Matsumura, Fumio. Sutan Takdir Alisyahbana, ditulis: Alisyahbana, Sutan Takdir dan Eka Setya Pambudi Puteri di tulis Puteri, Eka Setya Pambudi.
  • Nama pengarang merupakaan suatu lembaga. Apabila dalam suatu karangan hanya ditulis nama lembaga yang menyusun, maka nama lembaga tersebutlah yang ditulis sebagai nama pengarang, contoh: Internasional Riec Researcch Institute, 1990. 
3. Penulisan pustaka tanpa tahun penerbit, tanpa kota, atau tanpa penerbit.
Bila tahun penerbitan tidak tercantum pada sebuah dokumen, terpaksa ditulis dengan kata tanpa tahun (dapat disingkat t.t.) di antara tanda kurung (t.t.); jika tanpa kota terbit tulislah tanpa kota (dapat disingkat t.k.) diantara tanda kurung (t.k.); jika tanpa penerbit tulislah tanpa penerbit (dapat disingkat t.p.) di antara tanda kurung (t.p.).
Contoh:
Walton, J.E. (t.t.). Probability and Statistics. Washington DC: (t.p.)
Pendokumentasian Pustaka pada pustaka 
Pada daftar pustaka setiap pustaka ditulis dengan spasi tunggal dimulai dari margin kiri tanpa masuk dan baris kedua dan seterusnya masuk lima ketukan dari margin kiri, sedangkan antar pustaka diberi jarak 1,5 spasi. Sebagai akibat dari penggunaan sistem nama dan tahun dalam penunjukan sumber pustaka, maka dalam penyusunan daftar pustaka tidak perlu diberi nomor urut, melainkan didasarkan pada urutan alfabet nama-nama pengarang. Penulisan nama dalam daftar pustaka berbeda dengan penulisan nama dalam penunjukaan sumber acuan. 
Acuan : contoh 
Fumio Matsumura, ditulis: Matsumura; F. Sutan Takdir Alisyahbana; S.T., dan Eka Setya Pambudi Putera ditulis Putera, E.S.P. Pada daftar pustaka, semua pengarang (apabila pengarang lebih dari satu) harus ditulis lengkap, sehingga tidak boleh hanya mencantumkan nama pengarang pertama dan diikuti et al., contohnya :
Burkhalter, A.P.; B.N. Curtis; R.L. Lazor; dan J. Hudson, 1970
Aquatic Weed …………………
De Dattaa, S.K. dan R. Baker, 1977. Economicc evaluation of … 
Nama editor atau penyuntingan dari karangan bunga rampai termasuk prosiding seminar harus dicantumkan. Penulisan nama pengarang tidak dibalik dan hanya disingkat pada suku kata depan dan seterusnya, kecuali suku kata akhir yang tetap di tulis lengkap, contohnya: 
Andres, L.A. dan R.D. Goeden, 1969. Biological control of weeds by intruduced natural enemies, pp.125-129. Dalam C.B. Huffaker (ed.), Biological Control. Planum Press, New York. 
Cara Penunjukan Sumber Pustaka pada teks karangan 
1. Nama pengarang ditempatkan sebagai awal kalimat, contoh : 
Verheij (1984:34) mengemukakan bahwa perontokan daun akan memacu tumbuhnya kuncup dan merangsang pembungaan
2. Nama pengarang ditempatkan di bagian tengah kalimat, contoh : 
Perontokan daun menurut Verheij (1984:75) akan memacu tumbuhnya kuncuip dan merangsang pembangunan. 
3. Nama pengarang ditempatkan di bagian akhir kalimat, contoh : 
Perontokan daun akan memacu tumbuhnya kuncup dan merangsang pembungaan (Verheij, 1984:35). 
4. Nama pengarang lebih dari dua orang, contoh : 
Daun anggur di atas kuncup lateral dalam julah tertentu perlu dipertahankan pada awal permulaan pembungaan (Levee et al., 1967:12). 
5. Sumber acuan lebih dari satu judul, contoh : 
Kuncup bunga jambu biji akan muncul setelah tunas baru berumur 1-2 bulan (Shigeura et al., 1975:87. Ohja, 1985:70 Sehgal dan Sigh, 1985:65) 
6. Acuan yang dikutip dari sumber kedua, contoh : 
Calon bunga dimulai di dalam kuncup yang proses perkembangan berbeda-beda menurut jenis tanamannya (May dan Anchliff, 1964 cit. Notodimedjo, 1983). Dalam kasus seperti ini Notodimedjo, 1983 saja yang ditulis dalam daftar pustaka. 
Penulisan sumber pustaka dalam daftar pustaka 
Sumber diambil dari buku teks, contoh : 
Hariyadi, S.S., 1986. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia, Jakarta.
Naka, J.Y., 1985. Bonsai Techniques II. Santa Monica Dennis-Landman Publisher. 
Sumber pustaka diambil dari karangan dalam bunga rampai dalam bentuk buku atau prosiding seminar. Karangan semacam ini umumnya ada editornya, disamping penulis naskah, contoh : 
Feeddle, M.P., 1984. Respiration in birds. Pg.255-261. dalam M.J. Swenson (ed.) Duke’s Physiology of Domestic Animals: Cornell University Press, New York. 
Hibino, H. and P.Q. Cabauatan, 1986. Dependent Transmission of RTBV on RTSV by a vector leafhopper pg. 227-34. dalam Hidaka. and N. Hidaka. and N. Sako (ed). Transmission of Plant and Animal Viruses by Vector. Proceedings of an International Syamposium Held at Fukuoka, Japan.
Soegihardjo, C.J., 1987. Kultur Jaringan Tumbuhan Sebagai Sumber Metabolit Sekunder, hal. 1-26. Dalam Kardiyono (ed). Kultur Jaringan Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 
Yulianto, A. Hasanudin, M. Muhsin, dan S.Susanto, 1997. Identifikasi Gulma sebagai inang alternatif virus tungro. Hal 155-159. Dalam S.H. Kusuma (ed). Prosiding Kongres XIV dan Seminar Nasional PFI,Palembang.
Sumber pustaka yang diambil dari abstract, 
Penggunaan abstrak atau intisari sebagai rujukan dapat digunakan hanya manakala dokumen aslinya tidak dapat ditemukan. Pustaka dari abstrak atau intisari penulisannya di dalam daftar pustaka perlu dinyatakan dengan mencantumkan kata abstrak atau intisari di antara tanda kurung yang diletakkan pada urutan paling belakang atau setelah nama (majalah) abstarknya.Contoh:
Almquist, J.O. and B.C. Cunningham. 1996.”Semen Traits of Bull ejaculated frequenty”. Dalam Journal Animal Science 44(2): 123 (abstr).
Hildebrand, A. C., 1984. Influence of some carbon compounds on growth of plant tissue cultures in vitro. Rec. 100: 674 (abstr). 
Lopees, J.G., V.L. Monica, O.C. Koller, dan I. Ribadldi, 1984. Effect of six Novohamburgo. Brazil Horticulture.. 54(12): 125. (Abstr)
Sumber pustaka dari majalah ilmiah, contoh : 
Chapman, K.R., B. Paxton, dan D.H. Maggs, 1986. Grawth and Yield of Clonal guavas in South-Easthern Queensland. Aust. J. Exp. Agric. 26:619-624
Gachanja, S.P. dan A.M. Gurnah, 1980. Pruning and trellising purple passion fruith yield and seasonal trend. Jurnal Horikultura. Sci. 55(4): 345-349. 
Sumber pustaka berupa laporan penelitian (tidak dipublikasikan) 
Noviati, S. 1998. . Naskah publikasi skripsi S1: Potensi merusak lalat pengorok daun, Liriomyza sp. Pada beberapa jenis tanaman sayuran di Tawangmangu Karanganyar, Fakultas Pertanian UNS, Surakarta.
Poromarto, S.H. dan Supyani, 1999. Kajian ekotipe wereng hijau (Nephotettix Viresecens Distant.) dengan elektroforesis protein total Laporan Penelitian untuk Program Penelitian Dosen Muda, Depdikbud, . Jakarta.  
Sumber pustaka berupa makalah ilmiah (belum/tidak dibuat prosiding) 
Bastian,A, H. Talanca, dan A. Hasanudin, 1995. Uji Infektivitas wereng hijau, Nephotettix Virescens dari beberapa varietas padi terhadap penyakit tungro. Kongres Nasional XII dan Seminar PFI. Yogyakarta: 6-8 September 1995. 
Hidayat, P., 1997. Penggunaan karater morfologi dan molekuler untuk membuktikan bahwa Sitophilus oryzae (L). dan S. zeamais Motsch. (Col.: Curculionidae) adalah dua spesies yang simpatri. Kongres Entomologi V Bandung: 24-26 Juni 1997. 
Penulis dari nama institusi 
Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. 1992. Tungro dan Wereng Hijau. Laporan akhir kerja sama teknis Indonesia-Jepang. Dirjen Pertanian Tanaman Pangan 
Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Wil. Surakarta, 1999. Laporan Pemantaan populasi dan serangan OPT padi di Wilayah Surakarta. Surakarta. 
Penulisan nama pengarang yang sama dengan nama pengarang sebelumnya. Contoh :
Srinivasa, K.V., 1963. Some observations on variation in the red root pathogen, Glomerella tucumanensis. Plant Pathol. 11:795-802. 
, 1964. Some observation on sugarcase wilt. J Indian Bot. Soc. 43:397-408
Pustaka dari artikel pada surat kabar
Sumber yang berupa surat kabar dicantumkan seperti penulisan artikel dari majalah.Contoh: 
Torsina, M. 1998. “Gejala geologi paga lempengan mediteran”. Kompas, 29 Mei, 1998, Th. 33 No. 338, Hlm. 4.
Pustaka dari suatu skripsi
Pada pustaka ini hampir sama dengan buku. Hanya saja setelah judul skirpsi disebutkan nama fakultas (atau yang sederajat, misalnya departemen), nama universitas, dan kota lokasi universitas.Contoh:
Astuti, Dwi Astik. 2005. “Kesusuaian Tanah Untuk Tanaman Wortel ( Daucus carota ) Kubis ( Brassica oleracea ) dan Sawi ( Brassica juncea ) di Desa Blumbang Kec. Tawangmangu Kab. Karanganyar “ (skripsi). Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
Sitasi dari Internet
Dengan semakin majunya era globalisasi, keterangan yang diperoleh dari internet sering pula sangat membantu. Dalam hal demikian itu, apabila sitasi internet tidak dapat dihindari, sitasi yang berasal dari publikasi di internet diperbolehkan. Caranya sama ketika menyitir dari sumber yang lain, yakni dicantumkan nama pengarangnya, tahun, dan halamannya. Akan tetapi, penulis disarankan untuk mendapatkan print out-nya. Yang perlu diperhatikan bahwa ketika membuat daftar pustaka, nomor kode dari web site harus dicantumkan sebagai ganti nama kota dan penerbit. Misalnya:
Victor, H. 2004. “Pengaruh Siprimin terhadap Diversitas Makrofauna Tanah; Dalam www.prescom.com, tanggal 11 November 2004, pukul 14.33. 
Nama Pengarang stlh dibalik ,…….
Contoh diagram Susunan Daftar Pustaka

Post Comment