Pengertian Nilai Tukar Atau Kurs Valuta Asing Menurut Ahli

Pengertian Nilai Tukar Atau Kurs Valuta Asing Menurut Ahli

Pengertian Nilai Tukar Atau Kurs Valuta Asing Menurut Ahli

Pengertian Nilai Tukar Atau Kurs Valuta Asing
Pengertian nilai tukar (foreign exchange rate) menurut Cornelius Luca di dalam bukunya yang berjudul “Trading in the Global Currency Markets” adalah sebagai berikut: “An exchange rate is therefore the price of one currency in terms of another.” (Luca, 1995:1). Dari definisi tersebut, nilai tukar valuta asing dapat diartikan sebagai harga suatu mata uang terhadap mata uang negara lain. Frank J. Fabozzi dan Franco Modigliani dalam buku “Capital Markets” memberikan definisi mengenai nilai tukar sebagai berikut: “An exchange rate is defined as the amount of one currency that can be exchanged per unit of another currency, or the price of one currency in terms of another currency.” (Fabozzi dan Modigliani, 1992:664). Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa nilai tukar adalah sejumlah uang dari suatu mata uang tertentu yang dapat dipertukarkan dengan satu unit mata uang negara lain. 
Terdapat dua cara untuk menyatakan kurs, yaitu:
a. Model Eropa yang sering disebut dengan Indirect Quote.
Model ini merupakan cara yang paling umum dipakai dalam perdagangan valuta asing atau antarbank di seluruh dunia. Penetapan kursnya dilakukan berdasarkan pada berapa unit mata uang asing yang dibutuhkan untuk membeli satu unit mata uang dalam negeri. Contohnya, kurs US Dollar terhadap Rupiah pada tanggal 16 Maret 2004 adalah 0.0000116 US Dollar per 1 Rupiah. Kurs ini biasa disebut sebagai harga satu unit mata uang domestik dalam mata uang asing.
b. Model Amerika yang sering disebut Direct Quote.
Model ini disebut sebagai harga satu unit mata uang asing dalam mata uang domestik. Contohnya, kurs Rupiah terhadap Dollar pada tanggal 16 Maret 2004 adalah Rp 8.610,00 per 1 US Dollar. Dengan kata lain, model ini menjelaskan berapa unit Rupiah yang dibutuhkan untuk membeli satu unit US Dollar. Kurs ini merupakan kurs yang biasa dipakai di Indonesia. Apabila nilai tukar didefinisikan sebagai nilai Rupiah dalam valuta asing dapat diformulasikan sebagai berikut:
  • NTIDR/USD = Rupiah yang diperlukan untuk membeli satu Dolar Amerika (USD).
  • NTIDR/YEN = Rupiah yang diperlukan untuk membeli satu Yen Jepang.
Dalam hal ini, apabila nilai tukar meningkat maka berarti Rupiah mengalami depresiasi, sedangkan apabila nilai tukar menurun maka Rupiah mengalami apresiasi. Sementara untuk sesuatu negara menerapkan sistem nilai tukar tetap, perubahan nilai tukar dilakukan secara resmi oleh pemerintah. Kebijakan suatu negara secara resmi menaikkan nilai mata uangnya terhadap mata uang asing disebut dengan revaluasi, sementara kebijakan menurunkan nilai mata uang terhadap mata uang asing disebut devaluasi. Apabila nilai tukar didefinisikan sebagai nilai valuta asing terhadap Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
  • NTUSD/IDR = Dolar Amerika yang diperlukan untuk membeli satu Rupiah.
  • NTYEN/IDR = Yen yang diperlukan untuk membeli satu Rupiah.
Dengan menggunakan konsep ini, apabila nilai tukar meningkat, maka Rupiah mengalami apresiasi untuk sistem nilai tukar mengambang bebas atau revaluasi untuk sistem nilai tukar tetap, sedangkan apabila nilai tukar menurun, maka Rupiah mengalami depresiasi untuk sistem nilai tukar mengambang bebas atau devaluasi untuk sistem nilai tukar tetap. Nilai tukar didasari oleh dua konsep, antara lain:
  1. Konsep Nominal, merupakan konsep untuk mengukur perbedaan harga mata uang yang menyatakan berapa jumlah mata uang suatu negara yang diperlukan guna memperoleh sejumlah mata uang dari negara lain.
  2. Konsep Riil, yang dipergunakan untuk mengukur daya saing komoditi ekspor suatu negara di pasaran internasional.
Dalam transaksi perdagangan internasional, suatu negara tidak hanya melakukan transaksi pada satu negara, tetapi juga dengan beberapa negara. Dengan demikian, pengukuran nilai tukar riil suatu negara terhadap mitra dagangnya perlu juga disesuaikan dengan memperhitungkan laju inflasi dan nilai tukar dari masing-masing negara tersebut. Pengukuran rata-rata nilai tukar suatu mata uang riil terhadap seluruh atau sejumlah mata uang asing disebut sebagai nilai tukar efektif. Sebagai suatu angka rata-rata biasanya dalam menghitung nilai tukar efektif tersebut dipergunakan suatu bobot atas suatu mata uang tertentu. Bobot tersebut, misalnya, dapat berupa pangsa perdagangan suatu negara dengan negara lain. 
Nilai tukar efektif ini dapat dihitung antara satu negara dengan negara lain (bilateral) atau satu negara dengan beberapa negara (multilateral). Pasar valuta asing (Foreign Exchange Market) adalah sebuah pasar atau tempat pertemuan dimana individu, perusahaan, dan kalangan perbankan mengadakan jual beli mata uang dari berbagai negara atau valuta-valuta asing. Pasar ini tidak memiliki lokasi fisik yang tunggal, akan tetapi ada dimana saja dan kapan saja transaksi valuta asing menjadi kebutuhan. Secara prinsip bursa didapati di pusat-pusat keuangan utama seperti London dan New York yang terdiri atas pencipta bursa (market maker) yang dipersiapkan untuk perdagangan valuta asing. 
Kurs Beli dan Kurs Jual 
Kurs yang di-quote menunjukkan kesediaan untuk membeli dan menjual mata uang asing pada harga atau rate yang ditetapkan. Secara umum, terdapat dua macam kurs, yaitu kurs beli (bid) dan kurs jual (offer).
Kurs beli adalah harga dimana dealer yang terdiri dari bank dan money changer bersedia membeli mata uang asing. Kurs jual adalah harga dimana dealer bersedia menjual mata uang asing. Selisih antara kurs jual dan kurs beli merupakan keuntungan dealer tersebut. 
Sistem Nilai Tukar Valuta Asing 
Sistem nilai tukar yang dipakai oleh banyak negara di dunia, yaitu (Gillis et al, 1996):
  • Sistem fixed (pegged), dimana otoritas moneter selalu mengintervensi pasar untuk mempertahankan nilai tukar mata uang sendiri terhadap satu mata uang asing tertentu. Intervensi tersebut memerlukan cadangan devisa yang relatif besar. Tekanan terhadap nilai tukar valuta asing, yang biasanya bersumber dari defisit neraca perdagangan, cenderung menghasilkan kebijakan devaluasi.
  • Sistem Adjustable peg, dimana otoritas moneter terikat untuk mempertahankan nilai tukar valuta asing. Namun, otoritas moneter berhak mengubah kurs apabila terjadi perubahan kebijakan.
  • Sistem Crawling peg, dimana otoritas moneter mengaitkan mata uang dalam negeri terhadap satu atau beberapa mata uang asing. Nilai tukar valuta asing dalam sistem ini diubah secara periodik dan berangsur-angsur dalam persentase yang kecil.
  • Sistem Managed float, dimana otoritas moneter tidak terikat untuk mempertahankan nilai tukar valuta asing tertentu. Namun, otoritas moneter secara kontinyu mengintervensi pasar berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, misalnya, karena cadangan devisa yang menipis. Contoh yang lain, otoritas moneter dapat mengintervensi pasar agar nilai mata uang Rupiah melemah untuk mendorong peningkatan ekspor.
  • Sistem Wider band, dimana otoritas moneter membiarkan nilai tukar valuta asing mengambang atau berfluktuasi di antara dua titik tertinggi dan terendah, misalnya di antara Rp4.000 – Rp3.000 per 1 US Dollar. Jika keadaan perekonomian menyebabkan kurs bergerak melampaui dua titik tersebut, otoritas moneter akan mengintervensi pasar dengan cara membeli atau menjual Rupiah atau US Dollar. Intervensi tersebut menjaga nilai tukar Rupiah tetap berada di antara kedua titik tersebut.
  • Sistem Free floating berada pada kutub yang bertentangan dengan sistem fixed. Dalam sistem ini, otoritas moneter secara teoretis tidak perlu mengintervensi pasar sehingga sistem ini tidak memerlukan cadangan devisa.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Valuta Asing 
Dalam sistem nilai tukar tetap, mata uang lokal diciptakan secara tetap terhadap mata uang asing. Sementara dalam sistem nilai tukar mengambang, nilai tukar atau kurs dapat berubah-ubah setiap saat, tergantung pada jumlah penawaran dan permintaan valuta asing relatif terhadap mata uang domestik. Setiap perubahan dalam penawaran dan permintaan dari suatu mata uang akan mempengaruhi nilai tukar mata uang yang bersangkutan.
Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar, terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi permintaan valuta asing, antara lain adalah sebagai berikut: 
  • Faktor pembayaran impor. Semakin tinggi impor barang dan jasa, maka semakin besar permintaan terhadap valuta asing sehingga nilai tukar akan cenderung melemah. Sebaliknya, jika impor turun, maka permintaan valuta asing menurun sehingga mendorong menguatnya nilai tukar. 
  • Faktor aliran modal keluar (capital outflow). Semakin besar aliran modal keluar, maka semakin besar permintaan valuta asing dan pada lanjutannya akan memperlemah nilai tukar. Aliran modal keluar meliputi pembayaran hutang penduduk Indonesia (baik swasta dan pemerintah) kepada pihak asing dan penempatan dana penduduk Indonesia ke luar negeri. 
  • Kegiatan spekulasi. Semakin banyak kegiatan spekulasi valuta asing yang dilakukan oleh spekulan, maka semakin besar permintaan terhadap valuta asing sehingga memperlemah nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang asing. 
Sementara itu, penawaran valuta asing dipengaruhi oleh dua faktor utama, antara lain adalah sebagai berikut:
  • Faktor penerimaan hasil ekspor. Semakin besar volume penerimaan ekspor barang dan jasa, maka semakin besar jumlah valuta asing yang dimiliki oleh suatu negara dan pada lanjutannya nilai tukar terhadap mata uang asing cenderung menguat atau apresiasi. Sebaliknya, jika ekspor menurun, maka jumlah valuta asing yang dimiliki semakin menurun sehingga nilai tukar juga cenderung mengalami depresiasi.
  • Faktor aliran modal masuk (capital inflow). Semakin besar aliran modal masuk, maka nilai tukar akan cenderung semakin menguat. Aliran modal masuk tersebut dapat berupa penerimaan utang luar negeri, penempatan dana jangka pendek oleh pihak asing (Portfolio Investment) dan investasi langsung pihak asing (Foreign Direct Investment).
Teori Nilai Tukar Valuta Asing 
Berikut ini adalah beberapa teori yang berkaitan dengan nilai tukar valuta asing, antara lain adalah sebagai berikut:
a. Balance of Payment Approach.
Pendekatan ini mendasarkan diri pada pendapat bahwa nilai tukar valuta ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan terhadap valuta tersebut. Adapun alat yang digunakan untuk mengukur kekuatan penawaran dan permintaan adalah Balance of Payment. Dalam menggunakan pendekatan ini harus berhati-hati melihat data yang ada pada Balance of Payment. Karena tidak jarang data yang tersaji di sana memberikan gambaran yang bias terhadap pergerakan mata uang itu sendiri. 
Contohnya adalah sebagai berikut: 
  • Balance of Payment tidak memperhitungkan transaksi di pasar gelap. Memang transaksi di pasar gelap tidak terlalu besar dibandingkan dengan transaksi resmi. Tetapi untuk beberapa negara yang transaksi pasar gelapnya besar (transaksi narkotika dll.) maka aliran dana ini akan berpengaruh signifikan. 
  • Balance of Payment tidak memperhitungkan transaksi yang sifatnya berjangka.
b. Teori Purchasing Power Parity.
Teori ini berusaha untuk menghubungkan nilai tukar dengan daya beli valuta tersebut terhadap barang dan jasa. Pendekatan ini menggunakan apa yang disebut Law of One Price sebagai dasar. Dalam Law of One Price disebutkan bahwa dengan asumsi tertentu, dua barang yang identik (sama dalam segala hal) seharusnya mempunyai harga yang sama. Ada dua versi teori ini yaitu versi absolute dan versi relatif. 
  • Versi absolute menyatakan bahwa nilai tukar adalah perbandingan harga barang di dua negara. Ukuran yang digunakan adalah rata-rata tertimbang dari harga seluruh barang yang ada di negara tersebut. 
Versi absolute ini banyak mendapat kritikan karena beberapa hal antara lain: 
  • Sulit sekali menemukan produk di dua negara yang benar-benar identik. 
  • Versi ini tidak memperhatikan hal-hal lain seperti selera, tingkat pendapatan, merk barang, dll. 
  • Versi relatif mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar valuta dua negara adalah sama dengan selisih kenaikan harga barang di kedua negara tersebut pada periode tertentu. 
Versi relatif ini masih mendapat beberapa kritikan yaitu: 
  • Belum memperhitungkan pembatasan perdagangan yang diterapkan pada dua negara tersebut. 
  • Perbedaan dalam pembobotan indeks harga. 
  • Kesulitan dalam menentukan periode perhitungan sehingga mengalami kesulitan dalam perbandingan tingkat kenaikan harga. 
  • Kenyataan bahwa pada jangka pendek pergerakan valuta lebih dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan daripada pasar komoditi. 
c. Fisher Effect yang diperkenalkan oleh Irving Fisher.
Fisher Effect menyatakan bahwa tingkat suku bunga nominal di satu negara akan sama dengan tingkat suku bunga riil ditambah tingkat inflasi di negara itu.
d. International Fisher Effect.
Pendapat ini menyatakan bahwa pergerakan nilai mata uang satu negara dibanding negara lain (pergerakan kurs) disebabkan oleh perbedaan suku bunga nominal yang ada di kedua negara tersebut. Implikasi dari International Fisher Effect adalah bahwa orang tidak bisa menikmati keuntungan yang lebih tinggi hanya dengan menanamkan dana mereka ke negara yang mempunyai suku bunga nominal tinggi karena nilai mata uang negara yang suku bunganya tinggi tersebut akan terdepresiasi (turun nilainya) sebesar selisih bunga nominal dengan negara yang mempunyai suku bunga nominal lebih rendah. 
Nilai Tukar dan Neraca Perdagangan 
Berdasarkan konsep Purchasing Power Parity (PPP), harga barang-barang ekspor dan impor suatu negara dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang asing. Devaluasi atau depresiasi nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang asing mengakibatkan harga barang impor lebih mahal dan harga barang ekspor menjadi lebih murah. Sebaliknya, apabila kebijakan revaluasi atau apresiasi dilakukan harga barang impor menjadi lebih murah dan harga barang ekspor lebih mahal.
Kebijakan devaluasi atau penurunan nilai tukar mata uang lokal dapat digunakan untuk memperbaiki neraca perdagangan. Devaluasi nilai tukar mengakibatkan penurunan harga barang ekspor dan pada lanjutannya mendorong peningkatan daya saing barang-barang ekspor dan pada akhirnya dapat meningkatkan volume barang-barang ekspor. Dari sisi barang impor, devaluasi dapat mengakibatkan semakin mahalnya barang impor dan pada akhirnya dapat mengurangi permintaan impor. 
Dasar pemikiran tersebut mendorong beberapa negara menerapkan kebijakan devaluasi untuk memperbaiki neraca perdagangannya, seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1978, 1983, dan 1986. Dalam praktek tidak semua negara yang nilai tukarnya mengalami depresiasi atau devaluasi selalu menunjukkan perbaikan di sisi neraca perdagangan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan devaluasi terhadap neraca perdagangan, terutama berkaitan dengan elastisitas barang impor dan ekspor. 
Jika elastisitas barang impor atau barang ekspor terhadap harga elastis, maka kebijakan devaluasi ataupun depresiasi akan sulit untuk memperbaiki neraca perdagangan. Kebijakan devaluasi dapat berhasil memperbaiki neraca perdagangan jika elastisitas barang ekspor dan impor lebih dari satu dan persyaratan ini disebut dengan Marshall Lerner Condition. Terdapat beberapa alasan melemahnya respons perubahan nilai tukar terhadap harga, antara lain:
Terdapat lag kebijakan karena penyampaian informasi tidak sempurna sehingga importir baru menyadari bahwa telah terjadi perubahan harga akibat kebijakan tersebut.
Terdapat lag antara pengambilan keputusan dan waktu pemesanan, seperti persediaan bahan baku untuk produksi akan habis dua atau tiga bulan kemudian sehingga perusahaan tidak perlu mengimpor. 
Terdapat lag antara impor baru dengan produksi dan penyampaian barang sebelum dipenuhi, misalnya, perusahaan yang telah memesan barang-barang modal, seperti mesin, tidak dapat membatalkan pesanannya karena telah terikat kontrak.
Pengaruh devaluasi atau depresiasi nilai tukar akan dirasakan dalam jangka waktu yang lebih panjang, sementara dalam jangka pendek neraca perdagangan cenderung memburuk. Pengaruh dari devaluasi sebagaimana telah dikemukakan di atas dapat digambarkan dalam bentuk kurva J (J-Curve) pada Gambar. Pada daerah 
  1. Neraca perdagangan akan memburuk akibat kebijakan devaluasi. Hal ini dapat terjadi karena dalam jangka pendek kebutuhan impor perusahaan masih tinggi sementara ekspor belum meningkat. Pada daerah 
  2. Elastisitas barang ekspor dan impor meningkat secara bertahap, dan daerah 
  3. Neraca perdagangan akan melampaui titik awal ketika Marshall-Lerner condition dipenuhi.
SUMBER :

Post Comment