Pengertian Paradigma Penelitian Menurut Ahli

Pengertian Paradigma Penelitian Menurut Ahli

Pengertian Paradigma Penelitian
Berdasar ilmu asal usul kata (etimologi), paradigma berasal dari kata berbahasa latin yang sama yaitu paradigm. Kata ini diungkapkan kembali oleh Thomas S Khun yang termaktub dalam buku The Structure of Scientific Revolution (1970) yang mengandung makna pola, model atau contoh. Selanjutnya, Thomas Khun merujuk bahwa yang dimaksud dengan paradigma adalah pandangan hidup yang dimiliki oleh kelompok ilmuwan yang mengacu kepada disiplin tertentu. (science world view atau weltanschauung). Hal penting yang menjadi inti permaslaahan terkait dengan paradigma menurut Thomas Khun adalah revolusi ilmiah dalam dunia ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak terjadi secara evolutif dan tidak pula terjadi secara kumulatif, tetapi ia berkembang secara revolusi yaitu paradigmatik itu sendiri. Paradigma ilmiah sebagai contoh yang diterima tentang praktek ilmiah sebenarnya, Penelitian yang pelaksaannya didasarkan pada paradigm bersama berkomitmen untuk mengunakan aturan dan standar praktek ilmiah yang sama pula. ( Lexy Moleong, 2006:49). Ditambahkan oleh Moleong bahwa berdasarkan definisi Thomas Khun di atas dirumuskan bahwa paradigma adalah cara mendasar untuk mempersepsi , berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang realitas.
Baker dalam Moleong menyebutkan dalam Paradigms: The Business of Discovering The Future (1992) mendefiniskan paradigm sebagai seperanagkat aturan yang tertulis atau tidak tertulis dalam melakukan dua hal yaitu pertama hal itu membnagun atau mendefiniskan batas-batas dan kedua, hal itu menceritakan kepada anda bagaimana seharusnya melakukan sesuatu di dalam batas-batas itu agar dapat berhasil dengan baik.
Capra dalam Moleong menyebutkan definisi paradigma sebagai konstelasi konsep , nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami bersama dalam masayarakat ilmuwan yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar untuk bagaimana mengorganisasikan dirinya.
Bogdan dan Biglen dalam Moleong juga menyebutkan definisi paradigm sebagai sekumpulan yang longgar dari sejumlah asumsi, konsep-konsep serta proposisi-proposisi yang dipegang secara bersama-sama sehingga dapat menjadi arah dalam berpikir dalam penelitian
Deddy Mulyana dalam buku Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial (2001) menyatakan yang dimaksud dengan paradigm adalah perspektif bidang keilmuwan yang kadang-kadang disebut pula dengan mahzab pemikiran (school of thought) . Istilah istilah yang lain juga sering digunakan dengan perspektif yaitu model, pendekatan, strategi intelektual, kerangka konseptual, kerangka pemikiran, serta pandangan dunia. Deddy Mulyana merujuk pula pendapat Patton bahwa paradigm tertanam secara kuat di dalam sosialisasi para penganut serta praktisinya. Paradigma menunjukkan kepada mereka bahwa apa-apa yang penting, abash dan masuk akal. Paradigma juga bersifat normative yaitu menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukannya tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epistemologis yang panjang. Akan tetapi aspek inilah yang sekaligus merupakan kekuatan dan kelemahannya. Kekuatan menyangkut hal yang memungkinkan tindakan sedangkan kelemahan nya adalah alas an untuk melakukan tindakan tersebut tersembunyi dalam asumsi-asumsi. Deddy Mulyana juga mengambil dari pendapat Anderson bahwa yang dimaksud dengan paradigm adalah ideology atau praktek suatu komunitas ilmuwan yang menganut suatu pandanagn yang sama atas realitas, memiliki seperangkat criteria yang sama untuk menilai dan menggunakan metode serupa.
Menarik untuk dilihat lebih dalam hubungan antara realitas dengan subyek peneliti. Moleong (2006: 50) menggambarkannya sebagai berikut:
Pada dasarnya ada kesukaran apabila seseorang ingin merekonstruksi realitas. Pertama, ada realitas obyektif yang ditelaah, dan hal itu ditelaah melalui realitas sbyektif tentang pengertian –pengertian kita sebagaimana dikutip dari Hatcher (1990) :
0000000000
Kedua, paradigm sebagai cara pandang dunia seseorang tersebut dalam membangun realitas yang dipersepsikan untuk memfokuskan perhatian pada aspek-aspek tertentu dari realitas obyektif dan mengarahkan interpretasi seseorang pada struktur dan berfungsi pada realitas yang tampak maupun yang tidak tampak. Perhatikan sisi kanan bagan di atas dan bandingkan dengan bagan sisi kiri
Pada bagian lain Moleong(2006:51) menytakan terdapat bermacam-macam paradigm dalam dunia ilmu pengetahuan sekarang ini. Tetapi tidak semuanya muncul hanya beberapa yang mendominasi yaitu Scientific Paradigm atau paradigm ilmiah dan naturalistic paradigm atau paradigma alamiah. Paradigma ilmiah menggunakan sumber acuan pandangan positivistic sementara itu paradigm alamiah menggunkan sumber acuan pandangan fenomenologis. Dalam sejarah ditunjukkan bahwa aliran positivistic mempunyai akar pada pandangan teoretisi Auguste Comte beserta Emile Durkheim yang berlangsng pada awal abad ke-19. Para positivis mencari fakta dan penyebab fenomena social tetapi mereka tidak terlalu mempedulikan keadaan subyektif individu. Mereka menyarankan kepada para ahli ilmu pengetahuan social untuk mempertimbnagkan fakta social ataupun fenomena social sebagai sesuatu yang memberikan pengaruh dari luar atau memaksakan pengaruh tertentu terhadap perilaku manusia.
Sedangkan paradigm alamiah menggunakan sumber permulaan dari pandangan Max Weber yang kemudian diteruskan oleh Irwin Deutcher dan yang lebih dikenal dengan aliran fenomenologis. Fenomenologis berusaha memahami perilaku manusia dari segi kerangka berpikir maupun bertindak pelaku itu sendiri. Bagi mereka yang penting adalah kenyataan yang terjadi sebagai yang dibayangkan atau dipikirkan oleh pelaku itu sendiri.
Perbandingan paradigm ilmiah dengan paradigm alamiah dilihat dari aksiomanya sebagai berikut:
1111111111111
Tampak dari bagan di atas tentang perbandingan paradigm ilmiah dan paradigma alamiah bedasarkan aksioma (pernyataan logis yang digunakan untuk mendapatkan focus peneleitian). Selanjutnya dilengkapi dengan asumsi-asmusi dasar ( anggapan dasar yang tidak perlu diuji terlebih dulu tetapi mempunyai fungsi sebagai dasar pemilihan masalah penelitian ) diantaranya dari Guba dan Lincoln (1981) berikut ini:
Asumsi tentang kenyataan :Fokus paradigma alamiah terletak pada kenyataan jamak yang dapat diumpamakan sebagai susunan lapisan kulit bawang, atau seperti sarang, tetapi yang saling membantu satu dengan lainnya. Setiap lapisan menyediakan perspektif kenyataan yang berbeda dan tidak ada lapisanyang dapat dianggap lebih benar daripada yang lainnya. Fenomena tidak dapat berkonvergensi ke dalam suatu bentuk saja, yaitu bentuk kebenaran, tetapi berdivergensi dalam pelbagai bentuk, yaitu bentuk kebenaran jamak. Selanjutnya, lapisan-lapisan itu tidak dapat diuraikan atau dipahami dari segi variable bebas dan terikat secara terpisah, tetapi terkait secara erat dan membentuk suatu pola kebenaran. Pola inilah yang perlu ditelaah dengan lebih menekankan pada verstehen atau pengertian daripada untuk keperluan prediksi dan kontrol. Peneliti alamiah cenderung memandang secara lebih berdivergensi daripada konvergensi apabila peneliti makin terjun ke dalam kancah penelitian.
Asumsi tentang peneliti dan subjek: Paradigma alamiah berasumsi bahwa fenomena becirikan interaktivitas. Walaupun usaha penjajagan dapat mengurangi interaktivitas sampai ke minimum, sejumlah besar kemungkinan akan tetap tersisa. Pendekatan yang baik memerlukan pengertian tentang kemungkinan pengaruh terhadap interaktivitas, dan dengan demikian perlu memperhitungkannya.
Asumsi tentang hakikat pernyataan tentang kebenaran : peneleiti alamiah cnderung mengelak dari adanya generalisasi dan lebih menyetujui uraian rinci (thick description) dan hipotesis kerja. Perbedaan dan bukan kesamaan yang memberi cirri terhadap konteks yang berbeda . Jadi jika seseorang mendeskripsikan atau menafsirkan suatu situasi dan ingin mengetahui serta ingin mencari tahu apakah hal itu berlaku pada situasi kedua, maka peneliti perlu memperoleh informasi sebanyak-banyaknya infromasi guna menentukan apakah dasar cukup kuat untuk mengadakan pengalihan. Selanjutnya focus inquiry alamiah lebih memberikan penekanan pada perbedaan yang lebih besar daripada persamaan. Di lain pihak, paradigm ilmiah lebih mengacu pada dasar pengetahuan nomotetik yang menitikeratkan pada pengembangan hokum-hukum yang umum.
Bagi para peneliti terutama peneliti awal, maka jelas ia akan dipandu oleh seperangkat asumsi dasar tertentu. Bagi peneleiti kualitatif seperangkat asumsi akan bermanfaat dalam memandu keseluruhan tindakan serta perilaku penelitiannya.
Ditinjau dari sisi ini perbedaan paradigm penelitian kualitatif /alamiah dan paradigm penelitian kuantitatif/ilmiah digambarkan berikut ini:
PERBEDAAN PARADIGMA ILMIAH DAN PARADIGMA ALAMIAH
33333333333
Paradigma Penelitian Sosial
Sebelum lebih dalam memaparkan paradigm yang dipakai dalam penelitian social termasuk di dalam bidang ilmu/seni media rekam terlebih dahulu akan disinggung tentang kondisi seni media rekam yang bermuka ganda sehingga fakta yang ditemukan dapat ditelaah dari banyak pandangan. Faktor-faktor yang harus diketahui karena pengaruhnya yang cukup besar, dalam hal ini George Ritzer (1996:26) menyatakan :
1. Ontologis,
Yang dimaksud dengan ontologism adalah keberadaan obyek tersebut. Posisinya diantara bidang ilmu yang lain. Dalam bidang media rekam atau social obyek direkonstruksi oleh individu sebagai peneliti
2. Epistemologis,
Yaitu bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan , secaa kualitatif jarak anatara subye dengan obyek seolah-olah dihilangkan
3. Aksiologis,
Yaitu memberikan nilai, penelitian adalah penilaian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai
4. Metodologis,
Yaitu keseluruhan proses penelitian termasuk metode, teori dan teknik penelitian.
1. Paradigma Ilmiah
Paradigma ilmiah atau disebut juga paradigm positivistic juga disebut dengan paradigm fakta social. Dalam paradigm ilmiah fenmena social dipahami sebagai peristiwa atau kejadian alam lainnya. Oleh karena itu cara kerja ilmu social dipersamakan dengan metode di dalam ilmu alam. Hal ini menyebakan pada awlanya ilmu social sering disebut ilmu fisika social. Oleh karena itu dalam mengungkap fenomena social digunakan pendekatan positivistic dari Auguste Comte. Fenomena sosial harus dipahami dari perspektif luar yang diartikan sebagai fenomena social harus dapat ditelah dari teori-teori yang sudah ada.
Selanjutnya, ketika memahami reealitas , pardigma ilmiah atau positivistic merujuk pada perspektif makro. Hal ini dikarenakan, pertama, realitas dianggap sebagai suatu fenomena yang keberadaannya ditentukan oleh fenomena yang lain. Oleh karena itu, investigasi ilmiah ditandai dengan hubungan-hubungan sebab dan akibat. Sebagi contoh adanya kesenjangan dan polarisasi ekonomi si kaya dan miskin mengakibatkan terjadinya perubahan social sehingga norma-norma yang ada di masyarakat tidak lagi ditaati sementara kaidah baru belum terbentuk. Kedua, aliran positivistic sanagt menyakini bahwa realitas sosila dapat diklasifikasikan dalam symbol-simbol dengan atribut tertentu. Ia juga menganggap realitas social dapat digambarkan dengan symbol-simbol pula. Hampir semua symbol-simbol yang digunkan berasal dari bahasa yang dipakai sehari-hari oleh karena itu memungkinkan kita untuk menunjuk pada aspek-aspek tertentu yang telah ada atau yang telah memiliki makna.
Penelitian paradigm positivistic sanagt menyakini bahwa kategori yang ditempelkan dengan symbol dianggap sesautu yang pernah ada dan nyata serta dapat digali secara empiric dengan cara membuat hipotesis dalam bentuk hubungan sebab akibat antara variable. Untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan mak variabekl-variabel tersebut dikonsepkan sedemikian rupa sehingga dapat diukur. Hal ini dimulai dengan membuat definisi nomina yang berbasis angka, definisi operasional, kemudian melakukan pengukuran dengan teknik statistic.Hasilnnya ditemukan adanya derajat asosiasi dan derajat korelasi yang dikemas dalam bentuk numeric.
Penelitian dengan paradigm ilmiah/positivistic mempunyai tujuan antara lain: 
  1. Untuk melakukan eksplanasi atau menjelaskan sesuatu permasalahan 
  2. Untuk melakukan eksplorasi atau penjajagan berupa penyelidikan suatu masalah 
  3. Untuk melakukan penggambaran atau deskripsi 
  4. Melakukan pengujian atau verifikasi proses kejadian atau hubungan antar variable serta pola.
2. Paradigma Naturalistik
Nama lain dari paradigm naturalistic adalah paradigm alamiah, paradigm non-positivistik, paradigm definisi social, paradigm kualitatif atau paradigm mikro. Menurut Paul D Johnson (1994:54) menyebutkan bahwa paradigm naturalistic dikemuakan dan dikembangkan oleh Max Weber dengan mengembangkan sosiologi interpretive. Menurut Max Weber Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mencoba memberikan pemahaman interpretative mengenai tindakan social. Selanjutnya dikemukakakn bahwa yang dimaksud dengan tindakan social adalah semua perilaku manusia yang apabila dan sejauh individu yang bertindak itu memberikannya arti subyektif.
Paradigma naturalistic atau paradigm mikro mempunyai aliran-aliran sebagai berikut : fenomenologi, interaksi simbolik, etnometodologi dan kebudayaan. Menurut Paradigma naturalistic, fenomena social tidak sama dengan fenomena alam. Oleh karena itu, tidak tepat menggunakan metode ilmu alam dalam ilmu social. Fenomena social dipahami dari perspektif dalam /inner perspective / etik berdasarkan dari subyek pelaku. Penelitian dengan paradigm naturalistic mempunyai tujuan untuk memahami makna perilaku, symbol-simbol dan fenomena.
Penganut aliran paradigm naturalistic menganggap ealitas social yang menjadi obyek penelitian tidak semestinya bersifat perilaku social yang kasat mata. Tetapi ia meliputi keseluruhan makna budaya yang simbolis yang terdapat di balik semua gerak-gerik tindakan manusia yang kasat mata itu. Sementara itu sumber dari perilaku manusia itu, tidak berasala dari luar individu sebagai actor dan semata-mata mengikuti hokum sebab akibat. Sumber dari perilaku manusia bersumber dari dalam diri pribadi actor. Hal ini mengakibatkan makna pengalaman individu juga berasal dari diri pribadi actor.
Paradigma naturalistic menganggap masalah obyektifitas bahwa yang obyektif tidak semata-mata ditentukan oleh peneliti berdasarkan teori atau asumsi-asumsi tertentu yang telah diyakini kebenarannya. Hal ini dikarenakan justru dapat mengandung ataumenimbulkan bias budaya. Yang disebut obyekif adalah realitas sebagaimana yang dipahami dan dihayati oleh subyek penelitian sehingga bukan sembarang subyektif, melainkan justru obyektif menurut para subyek. Paradigma naturalistic juga beranggapan obyektif disusun dari subyek-subyek secara bersama menilai obyek.
Metode Penelitian
Sebagaimana diungkap dalam maping di atas, bahwa metode berasal dari gabungan bahasa Latin meta dan hodos . Meta memiliki arti menuju, mengikuti, melalui, atau setelahnya, sedangkan hodos memiliki arti arah, cara, atau jalan. Dalam terminologinya metode dapat diartikan sebagai cara atau strategi yang digunakan untuk memahami realitas dalam terminologi lainnya dapat diartikan sebagai rangkaian langkah yang sistematis untuk memecahkan permasalahan.
Metode dapat dianggap sebagai alat yang mempunyai fungsi untuk membantu menyederhanakan permaslaahan, sehingga lebih mudah untuk dipahami dan dicaikan pemecahannya. Contoh-contoh metode antara lain klasifikasi, deskripsi, komparasi, sampling, induksi, deduksi dan sebagainya.
Metode sering dicampuradukan dengan metodologi. Secara etimologi metodologi berasal dari gabungan kata metodos dan logos yang berarti filsafat ilmu mengenai metode. Dengan demikian yang dimaksud metodologi dalam penelitian adalah prsosedur intelektual dalam totalistas komunitas ilmiah. Prosedur yang dimaksud terjadi sejak peneliti menaruh minat tertentu, menyusun proposal, menentukan model dan konsep, merumuskan permasalahan mengumpulkan data dan lalu menganalisisnya dan akhirnya menarik kesimpulan. Metodologi bukan kumpulan metode juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut.
Dalam penelitian terutama ilmu sosila yang didalamnya termasuk budaya dan seni, ditemukan berbagai metode untuk mempelajari gejala social. KamantoSunarto (2002: 223) menyatakan Metode penelitian dalam ilmu social tidak selalu sama, karena ruang lingkup sasaran perhatianpara ahli ilmu sosila tidak selalu sama, ada yang mempelajari fakta social (Emile Durkheim), ada yang mempelajari Sistem Sosial (Talcott Parson) , Institusi Sosial (Emile Durkheim ) dan ada yang mempelajari toindakan Sosila (Max Weber).
Dalam usaha mengumpulkan data yang dapat menghaslkan penemuan-penemuan baru dalam ilmu social perlu diperhatikan tahap-tahap penelitian yang saling berkaitan. Metode penelitian secara garis besar dan dianggap poko adalah perumusan masalah, penyusunan disain penelitian, pengumpulan data, analisis data dan penulisan laporan penelitian.
Metode-Metode Utama dalam Kuantitatif
1. Metode Survai
Yang dimaksud metode survai dalam penelitian adalah sutau jenis penelitian yang didalamnya focus kajian dituangkan dalam sutau daftar pertanyaan baku. Metode survey sudah lama digunkan , misalnya pada tahun 1880 Karl Marx mengirimkan daftar pertanyaan ke 25 ribu buruh di seluruh wilayah Perancis. Suatu daftar pertanyaan dalam metode survey pada umumnya memuat pertanyaan tertutup serta subyek penelitian diminta memilih jawaban yang telah disediakan oleh peneliti. Metode survey juga memiliki kesamaandengan sensus, namun sensus yang menajdi subyek penelitian adalah seluruh populasi. Misalnya semua kepala rumah tangga di seluruh Indonesia sedangkan dalam metode survey daftra pertanyaan diajukan pada subyek penelitian yang dianggap mewakili populasi misalnya 5%.
2. Metode Observasi
Yang dimaksud dengan observasi atau pengamatan adalah suatu metode penelitian non survey. Dengan metode observasi peneliti mengamati secara langsung perilaku subyek penelitiannya. Dalam kurun waktu yang relati lamapeneliti memperoleh banyak kesempatan mengumpulkan data yang bersifat mendalam. Contoh penggunaan metode ini yang terkenal anatara lain Parsudi Suparlan (1984) yang mengamati seluk-beluk kehidupan gelandangan di Ibukota Jakarta.
3. Metode Riwayat Hidup
Riwayat hidup merupakan metode dalam ilmu social yang berdasar pada pengumpulan dan pengungkapan data yang penting mengenai pengalaman subyektif. Kajian terhadap riwayat hidup dapat mengungkapkan data baru yang belum terungkap. Contoh studi dalam ilmu social yang menggunakan metode riwayat hidup adalah Thomas dan Znaniecki (1966) yang berjudul The Polish Peasant in Europe and America dan he Jack Roller yang mengisahkan riwayat hidup di penjara anak-anak nakal.
4. Metode Studi Kasus
Dalam penelitian yang memakai metode studi kasus berbagai segi kehidupan social kelompok tertentu secara menyeluruh. Penelitian studi kasus yang menonjol adalah karya Robert Lynd dan Helen Lynd tentang kehidupan masyarakat kota kecil di Amerika Serikat yang mereka beri nama Middletown. Tujuan penelitian ini sanagt luas karena mencakup segi mencari nafkah, pembentukan rumah tangga, sosialisasi anak, penggunaan waktu luang, kegiatan di bidang keagamaan dan kegiatan komunitas.
5. Metode content analysis
Suatu masalah penelitian dapat pula diungkapkan denagn jalan menganalisis isi berbagai dokumen seperti, surat kabar, majalah, dokumen resmi, maupun naskah saastra. Dari data yang terkumpul dari berbagai sumber tersebut lalu dialihkan menjadi bentuk numeric yang dapat dianalisis secara kuantitatif.
6. Metode Eksperimen.
Metode eksperimen ini lebih banyak digunakan di ilmu sosila terutama seperti psikologi. Salah satu yang terkenal adalah studi Michael Wolff tentang interaksi antara pejalan kaki di kala mereka berpapasan di pusat kota. Metode eksperimen ini dilakukan dengan membandigkan kelompok yang diberi perlakuan (experimental group) dengan kelompok yang kelompokyang tidak diberi perlakuan (control group). Kelompok yang diteliti harus memiliki kesamaan karakteristik
7. Metode Deduktif.
Metode ini merupakan metode yang menggunakan proses berpikir bermula dari pernyataan-pernyataan umum (premis mayor) menuju ke pernyataan yang bersifat khusus (premis minor). Contohnya : penelitia tentang minat siswa-siswa dan prestasi mereka. Hal ii dimulai dari teori tentang minat , selanjutnya dilihat ke dalam faktanya di lapangan bagaimana prestasi mereka.
Sementara itu metode-metode utama yang digunakan dalam paradigm kualitatif/nonpositivistik antara lain:
1. Metode Historis
Metode ini merupakan metode yang menggunakan analisis atau penyeldikan atas peristiwa masa lampau yang kemudia dirumuskan menjadi prinsip-prinsip umum. Contohnya adalah seseorang yang sedang meneliti akibat-akaibat dari sebuah revolusi akan menggunakan bahan-bahan sejarah untuk mendapatkan informasi terkait revolusi penting yang terjadi di masa lampau.
2. Metode Komparatif.
Merupakan metode perbandingan antara berbagai macam masayarakat serta segala bidangnya untuk memperoleh persamaan-persamaan , perbedaan-perbedaan beserta seba-sebabnya. Persamaan dan perbedaan tersebut tujuannya untuk mendapatkan petunjuk mengenai perilaku masayakat pada masa lampau dan masa sekarang , serta mengenai masyarakat –masyarakat yang mempunyai tingkat peradaban yang sama atau berbeda. Metode ini biasanya dikombinasikan dengan metode sejarah sehingga menjadi metode historis.
3. Metode Induktif.
Merupakan metode yang menggunakan proses berpikir bermula dari pengamatan terhadap kejadian yang khusus kemudian ditarik kesimpulan secara umum. Contohnya : seorang peneliti langsung melakukan pengamatan terhadap perilaku masyarakat yang terasing setelah memperoleh data untuk diolah. Kemudian dia menarik kesimpulan tentang pola-pola dalam mempertahankan budaya suku terasing tersebut.
Teori-Teori dalam Penelitian Kualitatif
Sebagaimana telah digambarkan dalam maping di bagian awal, tampak bahwa teori merupakan sebuah kontemplasi manusia untuk memahami apa-apa yang ada di sekitarnya, baik itu realitas, manusia maupun alam raya. Teori berfungsi untuk mendudukan segala apa yang diketahui manusia menjadi lebih sistematis dan metodologis. Beberapa buku juga mengutarakan definisi teori, antara lain Doyle Johnson menytakan teori adalah seperangkat pernyataan yang disusun secara sistematis (1994:14), sementara itu, Margareth Poloma mengatakan teori adalah seperangkat pernyataan yang secara sistematis saling berkaitan. (1996:6) Lalu Fred Kerlinger menyatakan bahwa teori adalah seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang saling berhubungan yang menyajikan suatu pandanagn yang sistematis terhadap fenomena dengan menjabarkan hubungan-hubungan dengan tujuan menjelaskan dan meramalkan fenomena tersebut. (1998:19). Dengan demikian melalui sistematisasi, teori mempunyai peran untuk merubah pengetahuan kita menjadi ilmu pengetahuan bernilai ilmiah.
Teori jika dilihat lebih dalam berdasar proses pemerolehannya terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu:
  1. Teori Formal, yang dimaksud teori formal ketika peneliti terlebih dahulu memanfaatkan teori yang sudah ada sebelumnya. Teori formal bersifat deduksi dan apriori
  2. Teori substantif yaitu ketika peneliti memanfaatkan teori yang digunakan sendiri atau teori yang diperoleh melalui manfaat, hakekat serta abstraksi data yang diteliti.
Teori dalam penelitian terutama kualitatif dikenal dalam sistematika yan disebut sebagai landasan teori. Keberadaan landasan teori dalam laporan penelitian menjadi sanagt penting untuk membantu mensistematisasi segala pengeahuan peneliti menjadi ilmiah.
Secara khusus, landasan teoretis dari penelitian kualitatif itu bertumpu pada pandangan fenomenologis. Fenomenologi menjadi dasr landasan teoretis utama dengan didukung dengan beberapa teori yaitu etnometodologi, interaksi simbolik dan kebudayaan.
Pada kebanyakan penelitian kualitatif teori yang mereka gunakan dibatasi pada pengertian bahwa pernyataan sistematis yang berkaitan dengan seperangkat proposisi/pernyataan yang berasal dari data dan diuji kembali secara empiris. Penelitian yang lengkap dan baik akan mendasarkan orientasi teoretisnya dan memanfaatkannya dalam pengumpulan dan analisis data. Disini teori akan mampu menghubungkan peneliti dengan data yang diperoleh.
1. Teori-teori Positivisme
Berikut teori-teori yang sering kali dimasukan ke dalam ranah disiplin positivistik:
a. Teori Fungsionalisme
Teori Fungsional atau sering juga disebut teori Fungsionalisme Struktural jika dibandingkan dengan teori besar lainnya seperti Evolusi, maka ia lebih statis. Teori fungsional Struktural memfokuskan pada suatu gejala di satu waktu tertentu dan menanyakan tentang apa akibat bagi kesatuan yang lebih besar. Fungsional sendiri oleh pengikutnya diartikan sebagai “suatu konskuensi atau akibat yang mantap”. Sementara itu, konsep struktural di sini merujuk pada buku The Structure of Social Action yang ditulis oleh tokoh sosiologi popular Talcott Parson yang merujuk pada konsep structural sebagai tindakan orang perorang atau kelompok orang ditentkan oleh struktur sosialnya. Unit analisis yamg dipakai Parsion adalah individu dan kelompok nya. Struktur social memiliki daya paksa terhadap individu.Struktur social memiliki norma, tujuan dan logika seperti keseimbangn, dan keteraturan.
Konsep struktur ternyata juga muncul dari derivasi disiplin arsitektur yang merujuk pada suatu bangunan sebagai tatanan fisik. Struktur selalu mengacu kepada unsure-unsur yang bersifat tetap dan mantap. Struktur gedung misalnya terdiri dari unsur fondasi , dinding dan atap yang masing-masing bersifat mantap. Dalam ilmu social, struktur disini lebih diartikan sebagai unsure-unsur dalam interkasi manusia baik itu berupa hubungan antara individu, inteaksi antara individu dan lembaga, atau interkasi antar lembaga. Interaksi tersebut terdiri dari jaringan relasi social hirarkis dan pembagian kerja tertentu yang didukung oleh peraturan-praturan dan nilai-nilai social budaya. Contoh penelitian pertelevisian yang melibatkan interaksi structural adalah proses produksi karya televise. Unsur-unsur pendukung produksi seperti sutradara, kamera person, penyunting, hingga tat a artistik baik itu busana maupun cahaya. Struktur-struktur tersebut saling bekerja sama mendukung keberhasilan sebuah produksi karya televise. Jika salah satu struktur saja tidak nbeerja secara professional maka hasil produksi karya televise akan tidak maksimal.
Selanjutnya, teori Fungsional–Struktural secara simultan mempelajari fungsi dari struktur-struktur dan pranata sosial dalam hidup bermasyarakat yang teratur dan stabil. Setiap fenomena sosial mempunyai akibat- akibat yang obyektif dan nyata. Baik berupa positif maupun negatif, baik disadari maupun tidak .
Analisis teori fungsional ini dapat membantu menjawab mengapa suatu kejadian sosial dipertahankan atau diubah. Seperti pada penelitian tentang penentuan hak-hak dan kewajiban-kewajiban diperlukan demi stabilitas dan pertahanan diri masyarakat.
Tokoh Fungsional Struktural adalah Emile Durkeheim (Eropa) dan Talcott Parson serta Robert K Merton (Amerika) . Merton lebih mencirikan teori ini menjadi tahapan-tahapan sebagai berikut : 
  • Fungsional struktural mempunyai arti bahwa segala fenomena sosial mempunyai konsekuensi dan terbuka bagi pengamatan empiris. Fenomena eksistensi Televise Republic Indoensia (TVRI), yang mempunyai cirri fungsional dalam masyarakat karena ia memberikan alternatif sajian berupa kekhasan pemirsa (segmented viewers) . Kelompok ini merasa TVRI berfungsi sebagai media informasi budaya yang diyakini sesuai dengan hati dan rasa pemirsa. Mereka termasuk kelompok yang setia meskipun pilihan saluran lebih dari satu.
  • Selanjutnya, yaitu fungsionalisme dalam masyarakat dibedakan menjadi fungsi nyata ( manifest function ) apabila konsekuensi tersbut disengaja atau setidak-tidaknya diketahui. dan fungsi tersembunyi (latent function) apabila konsekuensi tersebut tidak diketahui dan tidak disengaja demikian.
Letak penting Fungsi ini adalah : pertama, mampu memahamkan antara yang irasional tetapi tetap berlangsung. Kedua, memperkaya ranah sosiologi dan memperdalam pemahaman akan nilai.
Contoh Proses produksi film yang di lakukan di tempat tertentu yang bersifat keramat seperti kraton atau puncak gunung, sebelumnya dilakukan upacara tradisional, lebih dari itu, crew produksi juga diberikan piranti khusus, meskipun tidak ada rasionalisasi dari upacara dan pakaian tersebut tetapi ada fungsi tersembunyi. Yaitu memperkuat identitas kelompok dan persatuan yang lebih erat.
  • Fungsional tidak bersifat universalitas, terkadang ada hal-hal lain yang sama sekali nonfungsional dan segmental.
  • Fenomena kemasyarakatan di sekitar kita secara sosio budaya tidak selalu berfungsi baik dan positif bagi semua golongan.
  • Untuk menjadi fungsional struktural yang memenuhi prasarat yaitu :
  1. Adapatasi (semua proses harus beradaptasi dengan sarana-sarana seperti material, gagasan dan cita-cita supaya dapat hidup)
  2. kemungkinan pencapaian tujuan (harus ada tujuan bersama dan anggota yang dapat mencapai tujuan tersebut)
  3. integrasi antara anggota-anggota (harus ada usaha yang melibatkan dan mengkoordinasikan dalam keseluruhan sistem)
  4. kemampuan mempertahankan identitasnya terhadap goncangan yang muncul. (berupa nilai-nilai budaya melalui enculturasion, internalisation, serta commitment.
  5. Contoh penelitian pertelevisian dengan mengangkat topic / Televisi Republik Indonesia (TVRI) dapat digunakan . Seberapa besar TVRI masih menjalankan fungsinya idealnya sebagai televisi pemerintah ?
  6. Data awal pemirsanya di perkotaan sangat sedikit, fungsi bagi pemerintah atau pemirsa luas? (Donie Fadjar Kurniawan 2009: 55) 
b. Teori Konflik
Tokoh yang paling popular di dalam teori konflik adalah Karl Marx. Beberapa tokoh lain yang turut membesarkan paham ini adalah Charles Darwin, Vilfredo Pareto, Lewis Cose dan Ralf Dahrendorf. Karl Marx yang hidup sejaman dengan Charles Darwin secara simultan merumuskan pola pikir kehidupan manusia sebagai struggle for life, survival for the fitness, natural selection and progress.
Konflik dalam sosiologi dapat diartikan sebagai perselisihan mengenai nilai-nilai berkenaan dengan status, kekuasaan, kekayaan, dimana pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan tetapi juga memojokan, merugikan bahkan menghancurkan.
Tidak seperti teori fungsional yang menekankan pada keteraturan dan integrasi, maka teori konflik menempuh cara lain. Keteraturan dan integrasi dalam masyarakat dalam memainkan peranannya hanya permukaannya saja. Pada hakikatnya mereka terbagi dalam kubu-kubu yang saling melawan. Teori konflik menyatakan bahwa sesuatu yang berharga yang menimbulkan kepuasan hingga kekuasaan tidak dapat dibagi merata kepada semua pihak.. Sehingga muncul kelompok oposisi yang merasa tidak puas dan menginginkan porsi yang lebih besar atau mencegah pihak lain memperoleh atau menguasai.
Teori ini sangat dipengaruhi oleh Evolusi Sosial Darwinisme seperti struggle for life, dan survival for the fittnes.. Dan teori besar Karl Marx yaitu pertentangan kelas borjuis dan proletar dalam menguasai alur produksi. Tokoh teori konflik modern antara lain Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf.
Konsep kunci dalam teori konflik adalah kepentingan. Orang yang berada dalam posisi dominan berupaya mempertahankan status quo, sedangkan orang yang berada sebagai sub ordinat berupaya merubah keadaan. Konflik kepentingan ini selalu ada sepanjang sejarah.
Penalaran teori konflik didasarkan pada :
  1. Setiap masyarakat di segala bidangnya mengalami perubahan, teori konflik melihat perubahan dan konflik merupakan suatu sistem sosial (bandingkan dengan teori fungsional yang menekankan keteraturan masyarakat) 
  2. Berbagai elemen masyarakat berperan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan (fungsional : setiap elemen masyarakat berperan menjaga stabilitas)
  3. Bentuk keteraturan dalam masyarakat berasal dari pemaksaan dari yang berada di atasnya (masyarakat secara informal diikat oleh norma dan nilai)
  4. Peran kekuasaan dalam memperhatikan ketertiban ( memusatkan pada kohesi yang diciptakan oleh nilai-nilai bersama.) 
Strategi Pemecahan Konflik (Pruitt dan Rubin)
  • Contending, yaitu Semata-mata menuruti kemauan satu pihak saja dan tidak menghiraukan pihak lain, seperti hukuman, serangan, ancaman.
  • Problem solving, yaitu mencari pemecahan dengan mengembangkan aspirasi bersama dan konsiliasi/feeling friendly.
  • Yielding yaitu menemukan aspirasi keinginan yang berwujud konsensi parsial.
  • Inactive yaitu kedua pihak berusaha menghentikan dan mencegah konfrontasi yang bersifat sementara
  • Withdrawing, yaitu kedua belah pihak berusaha menghentikan dan menarik konfrontasi yang bersifat permanen 
2. Teori- Teori Naturalistik
Teori- teori yang termasuk ke dalam disiplin paradigm penelitian kualitatif cukup banyak jumlahnya. Sifat paradigm kualitatif yang lentur dan terbuka menakibatkan teori-teori yang digunakan memungkinkan untuk saling silang, bertumpuk satu dengan yang yang lain. Sejalan dengan sifat paradigmanya, hal ini bukan merupakan kelemahan melainkan relaitas social itu sendiri yang multi perspektif.
a. Teori Interaksi Simbolik
Pendekatan atau sebagian besar sarjana menyebut teori Interaksi Simbolik berpusat di Amerika berupa prestasi ilmiah dari sang guru dengan murid, George Herbert Mead dengan Herbert Blummer. Mereka beranjak pada pandangan bahwa dunia social mempunyai keunggulan daripada lainnya karena dari sinilah timbul pikiran, kesadaran dan interaksi dalam masyarakat. Dalam Mind , Self and Society yang menjadi salah satu buku pegangan terpenting dalam Sosiologi kontemporer, Mead menegaskan bahwa yang pertama adalah social group sebagai aktivitas yang kompleks. Selanjutnya berkembang ke pada tiap-tiap individu yang mulai memikirkan keberadaannya, hingga kesadaran pribadinya. (1996: 333-5) Mead berkutat pada empat premis pijakan yaitu stimulus, perception, manipulation, consummation. Kempat pijakan ini dapat dilihat dalam penelitian pertelevisian. Ketika Mead mengambil contoh hunger / kelaparan maka dalam penelitian pertelvisian dapat diangkat contoh infotainment. Stimulus berupa rasa ingin tahu tentang abar dari selebritis atau artis yang sedang terkenal. Berikutnya stimulasi tersebut akan membawa inner state of the actor/ dorongan dari dalam actor untuk mencari pemuas dari rasa keingintahuan tersebut. Pada tahap ini implus terkait dengan lingkungannya. Bagaiman rasa lapar muncul dan rasa keinginan terhadap berita melalui ‘infotaiment’ selalu melibatkan actor dengan lingkungannya.
Pada tahap kedua, persepsi, actor mulai mencoba untuk mencari, meneliti dan bereaksi terhadap stimulus. Pada contoh hunger , actor dapat menerapkan persepsi : mencium, mencicipi, merasakan hingga makan. Dalam infotaimnet, actor dapat mendengar, mencari , hingga menonton.
Pada tahap ketiga ‘manipulation’ berupa proses mental. Disini actor berada dalam posisi menilai/memanipulasi stimulus. Rasa lapar digambarkan sebagai suasana dihidangkan setumpuk berisi berbagai jamur. Untuk dapat menikmatinya, manusia harus memanipulasi jamur sehingga enak untuk dimakan. Demikian juga ‘ infotainment’ . Aktor harus melakukan manipulasi erhadap acara infotainment supaya layak untuk diminati. Lebih dari itu infotaonment juga dipilih dan dipilah sejalan dengan tujuan aktor dan jenis berita dalam infotainment sendiri.
Pada tahap keempat consummation. Mead menjelaskan sebagai tahapan dimana actor melakukan tindakan unuk memuaskan hasratnya/ satisfies the original impulse. Rasa lapar dan setumpuk jamur mengakibatkan actor dalam posisi konsumasi yaitu makan sedikit dan selektif. Aktor dapat terpuaskan rasa lapar tetapi ia dapat menolak hal-hal yang berbahaya. Demikian juga infotainment. Aktor dapat mengkonsumasi semua acara infotainment. Mereka harus menolak dan membuang infotainment yang berbahaya, dan tidak dibutuhkan.
Tonggak teori interaksi simbolik mencapai punyaknya di tangan sang murid Herbert Blummer. Istilah interaksi simbolik diderivasi dari aliran pragmatisme bahwa manusia merupakan produk social tetapi mereka sanggup menggunakan kreatiitas dan memiliki ‘tujuan’. Blummer melengkapi sekaligus mempertajam pijkan yang diberikan Mead bahwa manusia dalam bertindak dan berperilaku berdasarkan makna dan arti tindakan itu bagi dirinya. Manusia bertindak dengan melalui symbol dan proses interaksi social
Blummer merumuskan tindakan manusia ke dalam :
  • Human beings act toward thing on the basis of the meaning that the thing have for them.
  • The meaning of such thing is derived from the social interaction that one has with fellow.
  • The meanings are handled and modified through interpretive process used by the person in dealing with the thing. 
http://www.answer.com/topic/symbolic-interactionism
Dari uraian tersebut tampak pendekatan interaksi simbolik menyakini bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna bagi dirinya, selanjutnya makna tersebut berasal dari interaksi tiap-tiap individu dengan lingkungan sekitarnya, terakhir makna tersebut dibentuk dan disesuaikan dengan proses penafsiran interpretasi. Sehingga peranan penyampaian makna/meaning menjadi pokok kajian aliran interaksionis.
Dalam sumber lain Ritzer ( 2003 : 347-363) ditambahkan bahwa teori interaksi simbolik mendasarkan pada :
  1. Capacity for thought: each human being has his own capacity to think. Menurut Ritzer manusia dibelaki kemampuan untuk berfikir
  2. Thinking and interaction, the capacity to think is produced by a process of interaction. Kemampuan berpikir tersebut dibentuk melalui proses interaksi dengan lingkungannya.
  3. Learning meanings and symbols, among his social interaction human being learn about the meanings and the symbols, and guiding to optimize the learning. Selanjutnya melalui proses interaksi social, tiap-tiap individu mempelajari makna dan symbol yang memandu mereka mengoptimalkan kemampuan berpikir tersebut. 
  4. Action and interaction, by learning the meaning and symbol human being does action and interaction. Tiap-tiap individu melakukan aksi dan interaksi melalui pembelajaran.
  5. Making choice, human being is a creative therefore he/ she can change, modify and determine what are their choices. Manusia adalah makhluk kreatif sehingga mampu melakukan modifikasi dengan kreatifitasnya dan menentukan sesuatu sesuai dengan keinginan dan pilihannya.
  6. The self and the work, human being can develop some self –feeling such as pride as a result of our imagination others judgment. And he/she is allowed to judge the advantage and disadvantage then decide it into the work. Manusia dapat mengembangkan kemamuan dirinya sehingga memungkinkan mereka menguji serangkaian peluang dan menilai sisi baik maupun sisi buruknya untuk kemudian dapat menjatuhkan pilihan.
  7. Group and society, the action and interaction are interrelated one another which are happened in group and society. Hubungan antara aksi dan interaksi sangat erat, hal demikian terjadi dalam kehidupan kelompok dan masayarakat mereka.
Dari pandangan tersebut di atas dapat ditarik beberapa contoh penelitian pertelevisian yang dapat dianalisis melalui teori interaksi simbolik, kasus infotainment seperti ulasan tersebut di atas. Atau penelitain tentang eksistensi televise pemeriitah (TVRI) sekarang ini dapat di analisis melalui pendekatan interaksi simbolik. Bagaimana masyarakat Indonesia memberikan makna terhadap eksistensi TVRI. Kelompok masyarakat yang mana yang memberikan perhatian lebih, apakah kaum muda, atau golongan dewasa/ orangtua, apakah lapisan perkotaan atau pedesaan,. Atau seberapa penting kreativitas mahasiswa di Surakarta memberikan makna terhadap acara-acara TVRI? Memberikan jawaban terhadap hipotesis awal bahwa acara-acara TVRI tidak menarik perhatian mahasiswa se Surakarta.
b. Teori Fenomenologi
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang secara etimolois diartikan sebagai ‘apa yang telah menampakan diri’ sehingga hal itu nyata bagi kita. Secara terminologis fenomenlogi merupakan cabang ilmu filsafat eksitensialis yang menitikberatkan pada ajakan untuk kemablai kepada hal-hal itu sendiri. Tokoh dari teori fenomenologi adalah Edmund Husserl (1859-1938). Dalam memahami sesuatu , fenomenologis menghendaki kepada keaslianyang mendasar.
Untuk mendapatkan keaslian yang mendasar tersebut , fenomenologi menyarankan dua langkah penjabaran yaitu pertama, fenomena diselidiki hanya sejauh mana disadari secara langsung dan spontanyang berlainan dengan kesadaran sendiri.
Kedua, fenomena diselidiki hanya sejauh mereka merupakan bagian dari dunia yang dihayati sebagai keseluruhan (live world) tanpa menjadi obyek yang terbatas.
Dalam paradigma penelitian kualitatif, teori fenomenologi diguakan dalam berbagai bidang kajan. Seperti contoh kajian keagamaan, yaitu fakta religious dapat bersifat historis, sosiologis, ataupun psikologis. Peneliti fenomenologi tidak mempelajari tentang masyarakat melainkan belajar kepada masyarakat. Dalam rangka to learn from the people inilah peneliti fenomenologis perlu memahami bahasa, kebiasaan dan watak orang-orang yang semua itu membutuhkan pemahaman, verifikasi, klarifikasi, tidak hanya kepada orang lain tetapi juga subyek penelitian.
Lebih lanjut Husserl menyatakan fenomenologi menganggap dirinya sebagai suatu pengetahuan terdisiplin tentnag kesadaran dari perspektif pertama seseorang.
Fenomenologi memiliki riwayat yang cukup panjang dalam penelitian kualitatif di bidan ilmu social termasuk psikologi dan sosiologi yang Nampak dalam beberapa cirri pokok nya, antara lain :
  1. Fenomenologi cenderung mempertentangkan dengan naturalism yaitu yang disebut obyektivisme dan positivism yang telah berkembang sejak zaman renaisans dalam pengetahuan modern dan teknologi 
  2. Fenomenologi cenderung memastikan bahwa kognisi yang mengacu pada apa yang disebut sebagai evidens ( bukti) yritu kesadaran tentang keberadaan benda itu sendiri dan yang berbeda dengan lainnya.
  3. Fenomenologi cenderung mempercayai bahwa bukan hanya sesuatu benda yang ada di dalam dunia alam dan budaya.
Dalam konteks kemuthakhiran, fenomenologi menyelidiki pengalaman kesadaran yang berkaitan dengan pertanyaan bagaimana sesusatu hal ini diklasifikasikan?.
Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha untuk memahami arti sebuah peristiwa dan kaitannya terhadap orang-orang dalam situsi tertentu. Yang ditekankan dalam aliran fenomenlogis ialah aspek subyektif dari perilaku sesorang.
Penelitian fenomenologis memberikan pemahaman dengan dasar empati. (Weber menyebutnya Verstehen). Hal ini berarti peneliti memperlihatkan pemahaman terhadap tingkah laku orang lain yang meliputi pengalaman, pikiran, emosi, ide-ide, berdasarkan pengalaman dan tingkah laku dirinya sendiri. Itulah sebabnya penelitian fenomenologis sangat mengandalkan metode penelitian partisipatif supaya peneliti dapat memahami tindakan dari dalam.
c. Teori Etnometodologi
Etnometodologi mempuyai akar kuat pada disiplin sosiologi mikro dan antropologi. Tokoh yang paling berjasa dalam mengembangkan teori ini adalah Harold Garfinkel yang menulis buku induk berjudul Studies in Ethnometodology (1967). Ethnometodologi merupakan bagian dari paradigm naturalistic, oleh karena itu tentu saja bersinggungan dengan fenomenologi dan interaksionisme simbolik.
Lebih lanjut, Garfinkel menyimpulkan bahwa studi etnometodologi berarti kita menaruh perhatian pada bagaimana memahami rasionalitas kehidupan sehari-hari melaui ungkapan-ungkapan indeksikal yang diterapkan secara mekanik dalam kehidupan masyarakat.
Ahli lain , Bogdan dan Biglen menyatkan istilah etnometodologi dijumpai ketika Garfinkel mempelajari arsip silang budaya di Yale University yang memuat kata-kata seperti etnomatoni, etnomusik dan etnoastronomi. Istilah-istilah seperti itu mempunyai arti bagaimana warga suatu kelompok memahami, menggunakan, menata segi-segi lingkungan mereka.
d. Teori Semiotika
Secara etimologis semiotika berasal dari bahasa Yunani yaitu dari akar kata seme yang mempunyai arti penafsir tanda. Semiotika juga bisa dirujuk dari bahasa Latin yaitu dari akar kata semion yang berarti tanda. Dari kedua pendekatan asla-usul tersebut dapat diambil titik temu bahwa kar kata semiotika bertemu dalam konsep makna suatu tanda. Dala penegrtian yang lebih luas, terminologis semiotika dapat diartikan sebagai suatu studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, serta apa manfaatnya untuk kehidupan manusia.
Untuk menentukan makna suatu karya teori semiotika harus dipersatukan dengan analisis structuralis di atas. Hubungan ini saling menguatkan yaitu sebagai bentuk cara kerja dan prosesnya terhadap makna karya.
Kehidupan manusia dipenuhi dengan tanda-tanda ataupun symbol-simbol. Mereka berfungsi sebagai perantara supaya kehidupan lebih efisien. Dengan perantara tanda dan symbol manusia dapat berkomunikasi dengan sesamanya. Dengan tanda dan symbol pula pemahaman yang lebih baik terhadap dunia sehingga manusia dijuluki homo semiotics.
SUMBER :

Post Comment